KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI

Sebagai warga mayoritas di Indonesia, umat Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Dari zaman perjuangan, sejak awal pendirian Republik ini, hingga saat ini. Dalam masa ini berbagai masalah dan tantangan telah dihadapi oleh umat Islam. Ajaran Islam mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya yang pertama bahwa Islam sesuai dengan fitrah manusia. Kedua, ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Ketiga, bahwa kebenaran ajaran Allah adalah bersifat mutlak adanya. Keempat, ajaran Islam mengajarkan tentang keseimbangan dalam hidup. Kelima, Ajaran Islam bersifat fleksibel. Keenam, ajaran Islam bersifat universal. Ketujuh, ajaran Islam sesuai dengan akal pikiran yang sehat. Kedelapan, bahwa inti ajaran Islam adalah Tauhid (mengesakan Allah). Kesembilan, ajaran Islam menciptakan rahmatan lil alamin (rahmat seluruh alam semesta).

Saya ingin mengambil salah satu dari karakteristik ajaran Islam tersebut, yaitu bahwa ajaran Islam adalah menciptakan rahmatan lil alamin. Terhadap negara kita tercinta Indonesia ini, tidak ada alternatif lain, kecuali menciptakan kerukunan umat beragama. Menciptakan kerukunan umat beragama bukan kerukunan agama. Sehingga umatnya yang rukun, bukan agamanya. Dan terhadap agama orang lain Allah SWT memberikan garis lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Tidak bisa dicampuradukkan antara agama yang satu dengan yang lain, terutama dengan agama Islam. Jadi yang rukun adalah umatnya bukan agamanya.

Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam merangkai untuk memperkokoh pilar negara Indonesia yang kita cintai ini. Pertama, memupuk semangat ukhuwah (persaudaraan). Baik ukhuwah Islamiyah , ukhuwah insaniyah maupun ukhuwah Wathoniyah . Semangat persatuan ini diperintahkan oleh Allah SWT di dalam surat Al Anbiya [21] , 107 yang maknanya : dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Dan Surat Ali Imron ayat 103 yang maknanya : dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dan surah Al Hujurah [49] 10. Yang maknannya : orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Kaitan ayat tersebut adalah kita diperintahkan untuk menjalin ukhuwah, dalam hal ini adalahukhuwah Islamiyah, peraudaraan intern antar umat Islam. Karena di dalam Islam sendiri terdapat khilafiyah (perbedaan pendapat), namun bersifat cabang (furu’iyah) bukan hal yang pokok (ushuliyah). Misalnya, shalat shubuh yang dua rakaat tidak boleh terjadi perbedaan, karena merupakan hal pokok (ushuliyah), tetapi kalau shalat subuh ada yang qunut ada ada yang tidak, perbedaan seperti itu dibolehkan, karena qunut adalah masalah cabang (furuiyah). Yang penting masing-masing punya argumentasi yang benar. Yang biasa qunut tidak usah mengolok-olok kan kepada orang yang qunut, begitu juga sebaliknya.

Ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar manusia), baik persaudaraan antar sesama manusia warga negara Indonesia maupun warga negara luar Indonesia, warga negara yang beragama Islam maupun yang non agama Islam. Khusus warga negara Republik Indonesia yang beragama berbeda-beda, dimana Indonesia agama resmi yang diakui oleh negara ada enam agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Semua umat beragama harus menjunjung tinggi kebhinekaan antar umat beragama. Dilarang menghina terhadap agama lain. Kalau saling menghina, dan terus berlanjut, kemudian pemerintah tidak hadir di dalamnya, maka hal ini akan membahayakan terhadap keutuhan NKRI. Kemudian dilarang satu kelompok dengan kelompok lainnya. {Q.S Al Hujurat [49] 11).

KENDALA-KENDALA UKHUWAH
Prinsip Ukhuwah bukan sesuatu utopis, bukan pula suatu hal yang mustahil diwujudkan, meskipun mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam kenyataannya, setiap yang bernilai agung dan berkualitas tinggi memerlukan usaha gigih, perjuangan dan pengorbanan; oleh sebab itu mewujudkan nilai-nilai ukhuwah islamiyah menghadapi kendala-kendala yang mesti dicermati dan ditangani secara jujur dan serius serta sabar. Setidaknya ada 3 kendala yang dihadapi setiap mukmin di dalam merealisasi nilai-nilai ukhuwah islamiyah, yaitu:

(1) Jiwa Yang Tidak Dirawat. Ukhuwah Islamiyah sangat erat dengan keimanan. Iman merupakan sentuhan hati dan gerakan jiwa; karenanya jiwa dan hati yang tidak diperhatikan atau jarang diperiksa atau tidak dibersihkan akan menjadi lahan subur bagi munculnya virus-virus jiwa yang membahayakan kalangsungan ukhuwah, seperti: takabur, hasud, dendam, cenderung menzholimi, kemunafikan dll. Virus jiwa memang sulit dideteksi sebagaimana virus-virus penyakit jasmani. Biasanya orang tidak merasa dengan adanya virus tersebut kecuali setelah muncul dampak serangan virus itu, kecuali mereka yang terawat hati dan jiwanya, karena ia memiliki sensitifitas terhadap virus-virus tersebut. Betapa banyak orang tidak memahami adanya virus ukhuwah pada dirinya, kecuali setelah ia merasakan bahwa orang-orang di sekitanya membencinya, tidak senang kepadanya. Oleh karenanya, proses pembersihan hati dan merawat jiwa hendaknya dilakukan secara intens dan kontinyu, agar nilai-nilai ukhuwah dapat terpatri pada diri setiap hamba Allah yang mukmin.

(2) Lidah Yang Tidak Dikendalikan. Menjaga lidah dengan berkata baik dan jujur serta menjaui kata-kata merusak dan tercela, merupakan salah satu indikasi takwa kepada Allah swt. Firman Allah swt : Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar (Q.S. al-Ahzab:70). Bahkan memelihara lidah merupakan tanda kesempurnaan iman, sabda Nabi saw : (Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya ia berkata baik atau diam ). Karenanya lidah tidak boleh lepas kontrol, berfikir positif dan cermat sebelum berbicara dan bersikap merupakan sikap orang bijak. Seringkali lidah tanpa kontrol dan berbicara tanpa berfikir menyebabkan perselisihan dan permusuhan di masyarakat.

Suatu saat shahabat Abu Bakar r.a. lewat di depan 3 orang shahabat “non-Arab” ( Salman, Shuhaib dan Bilal) yang sedang asyik membincangkan kegagahan dan kepahlawanan para pedang Allah menghadapi Abu Sofyan (tokoh Quraisy sebelum masuk Islam) seraya mereka berkata: “Sungguh pedang-pedang Allah tak kan gentar menghadapi Abu Sofyan. Mendengar kata Abu Sofyan, langsung Abu Bakar menanggapi: Apakah kalian membincangkan seorang dari tokoh Quraisy ? Setelah Rasulullah saw mendengar berita tersebut, beliau meminta Abu Bakar untuk kembali menemui 3 shahabat tadi untuk meminta maaf, kata beliau: Barangkali engkau membuat merekmarah ( karena kata-katamu). Maksud pinta Rasulullah adalah agar setiap umat berhati-hati dalam berkata-kata dan tetap memelihara kebersihan hati dan keluhuran jiwa.

(3) Lingkungan Yang Kurang/Tidak Kondusif.

Kepribadian seseorang seringkali dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Apalagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan ta’tsir (mempengaruhi orang lain), sehingga dengan mudah ia dipengaruhi lingkungan dimana ia harus berinteraksi. Oleh sebab iotu Allah memerintahkan Nabi saw untuk senantiasa bersabar bersama orang-orang yang multazim (komitmen) dengan ajaran Allah, senantiasa taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. (QS al-Kahfi: 28.)

Nabi Muhammad saw pun meninggalkan pesan-pesan berharga buat umatnya dalam sebuah hadits: Perumpamaan orang yang shalih dengan orang yang tidak shalih ibarat pembawa minyak wangi dan peniup bara, Pembawa minyak wangi bisa memberikan minyak itu kepadamu, atau kamu membeli darinya atau (minimal) kamu memperoleh harum wangi itu. Peniup bara api bisa membakar bajumu atau kamu memperoleh bau tak sedap (HR Muslim).

Suasana dan lingkungan yang tidak baik merupakan salah satu faktor utama keretakan hubungan persaudaraan orang-orang yang beriman. Lingkungan yang terdapat saling hasud, budaya pamer, sikap riya’ dan hedonis, materialistis, prilaku desturkti, senang menyebar fitnah, hobi bergunjing, menyebar gosip dan isu tidak benar. Semua itu adalah penyakit-penyakit lingkungan yang merusak dan mematikan keharmonisan hubungan personal dan komunal pada masyarakat muslim. Semoga, ukhuwah bisa ditegakkan di negeri yang tercinta ini sehingga menjadikan negeri yang aman, adil dan makmur.

BeritaTerkait

ALUMNI NERAKA

ALUMNI NERAKA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *