Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)

Menyaksikan kehidupan berkebangsaan hari-hari ini, pasti semua sampai pada kesimpulan bahwa kita umat Islam dalam keadaan tidak nyaman. Karena umat yang mayoritas ini terkesan dibuat permainan. Demi satu orang, jutaan orang harus seperti menjadi korban. Oleh karena itu, kita kembali merenung dan menengok sejarah pada masa Nabi SAW. Bahwa, dalam dakwah beliau selama 23 tahun, gangguannya luar biasa. Beliau perang berkali-kali, yang berarti banyak gangguan. Dengan mengambil ibrah dari sejarah Nabi tersebut, maka, kita juga harus menyadari bahwa dalam berdakwah mesti adanya gangguan.

Pertama, untuk menghadapi semua kemungkinan, kita wajib bersatu, berusaha untuk memperkokoh ukhuwah imaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. Kalaupun kita ada di pos-pos organisasi tertentu, ada di aliran dan madzhab tertentu, kali ini kita hilangkan. Begitu kita sama iman, dan islamnya, maka kita bersaudara.

Allah berfirman dalam surah Al Hujurat [49] 10, yang maknanya : Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Sungguh orang-orang yang beriman itu bersaudara, apapun organisasinya. apapun partainya apapun alirannya, apapun madzhabnya, maka damikan dan berdamailah. Bertakwalah kalau ingin dirahmati oleh Allah SWT. Bersatunya umat Islam inilah modal untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi dalam kondisi apapun. Jangan lagi mempersoalkan remeh-temeh hal-hal kecil, masalah furu’iyah (cabang), khilafiyah (perbedaan). Tidak usah menyalahkan yang satu dan membenarkan diri sendiri, sudah cukup lama bergesekan tentang ini.

Kedua, menyadari, bahwa dalam ukhuwah ini, yang kita pertahankan adalah martabat , harga diri. Harga diri adalah termasuk lima termasuk hak asasi. Karena hak asasi manusia ada 5 : hifdhuddiin (menjaga agama), hifdhun nafs (menjaga diri), hifdhul aql (menjaga akan), hifdhul maal (menjaga harta), hifdhun nasl wal ilm (menjaga keluarga dan ilmu). Menjaga martabat agama jauh di atas martabat diri diri sendiri. Maka kalau harga diri saja dalam keadaan terancam boleh menggunakan kaidah darurat. Adhdharuuraatu tubihul mahdhuuraat (keadaan darurat membolehkan yang mestinya dilarang). Maka, jika yang terusik adalah martabat agama kita, martabat kitab Suci kita, martabat umala’ kita, tentu harus lebih peduli, lebih waspada, lebih perhatian, dan apapun keadannya, kita harus menghadapinya. Sekali lagi, persatuan kita adalah untuk menjaga iman. Ukhuwah kita adalah untuk menjaga agama. Kekompakan kita untuk menjaga kitab suci kita, dari hinaan, pelecehan, penistaan dari gangguan siapapun.

Ketiga, dalam menghadapi semua ini, kita bersyukur pada Allah SWT, MUI (Majelis Ulama Indonesia) sudah mengeluarkan fatwa jelas, tegas, dan dalilnya shorikh, qath’i, sehingga tidak perlu ditafsiri lagi. Dan sebenarnya, IPIM (Ikatan Persaudaraan Imam Masjid) seluruh Indonesia sudah mengeluarkan fatwa yang maknanya sama. Dan masalah pelecehan terhadap kitab suci, terhadap ulama kita, bukan hanya issu nasional, tetapi sudah merupakan masalah global. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap enteng masalah ini. Kemudian kepada yang punya otoritas mendapat amanat rakyat untuk memimpin negeri ini harus perhatian bahwa umat Islam sudah bersuara, maka jangan abaikan. Jangan demi satu atau dua orang, lalu mengabaikan masalah ini. Kita tentu tidak melupakan sejarah lengsernya para penguasa baik di negeri ini, dan negara lain, karena mengabaikan suara umat.

Untuk mengekspresikan kegundahan dan kegalauan kita. Kita harus menjaga martabat Islam itu sendiri. Kalau inginunjuk rasa silakan. Tetapi harus tetap menjaga martabat, nama baik agama, dan umat Islam, jangan ada caci-maki, jangan adak ungkapan kebencian, jangan ada kekerasan, jangan ada anarkisme. Karena sekali kita melakukan itu, maka Islam dan umat Islam yang akan mendapat cap buruk. Dan saya peringatkan, bahwa Polisi bukan musuh kita, mereka sahabat kita, maka jangan sampai ada bentrok dengan mereka. Amat sangat salah, jika ada demo kemudian bentrok dengan polisi, karena pekerjaan mereka menjaga keamanan.

Di negeri ini, islam adalah umat mayoritas. Indonesia merdeka, andil yang terbesar juga umat Islam. Bahkan pengorbanan terbesar adalah umat Islam, ketika piagam Jakarta dilengserkan. “Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” ini dilengserkan, tetapi umat Islam rela, demi NKRI. Ini merupakan pengorbanan terbesar, toleransi tingkat tinggi umat Islam. Setelah 70 tahun kemerdekaan, seolah umat Islam menjadi penonton di negeri sendiri. Untuk itu, kewibawaan kaum muslimin di negeri ini harus diperjuangkan.

Kita bisa menengok peristiwa-peristiwa demontrasi di negeri manapun, tidak ada yang mengangkat tema anti agama lain. Tidak ada. Tetapi justeri kita saksikan, di negara-negara lain seperti Amerika, Jerman, Inggris, Prancis dll ada demo anti Islam. Ini terbukti bahwa mereka ingin melemahkan kaum muslimin yang menurut hadis yang shohih, jika mendekati kiamat akan menguasai dunia.

Keempat, ada kisah inspiratif dari peristiwa dibakarnya Nabi Ibrahim oleh raja Namruz. Saat itu ada burung pipit. Demi peduli kepada Nabi Ibrahim dibakar, dia bolak-balik mengambil air dengan paruhnya, lalu diteteskan di tengah kobaran api yang membakar Nabi Ibrahim. Melihat tingkah laku burung pipit ini, cicak yang melihat menertawakanya, apa gunanya kamu menetesi kobaran api yang begitu membara dengan tetesan air dari paruhmu itu?. Burung pipit menjawab : “Saya tau, tetesan air ini tidak akan berpengaruh terhadap padamnya api, tetapi apa yang saya lakukan ini ada maknanya di hadapan Allah, dan saya mempunyai jawaban jika nanti ditanya oleh Allah, apa sikap empatimu terhadap orang yang Aku cintai, Ibrahim”. Sementara cicak justeru menghembus-hembuskan, agar api menjadi besar. Sekarang terjadi di negeri ini, kitab Suci kita dihina, ulama’ kita direndahkan. Apakah kita menjadi burung pipit yang bisa menjawab kalau ditanya oleh Allah tentang tindakan, partisipasi yang dilakukan untuk membela agama Allah, atau seperti cicak yang justeru menghembus-hembuskan supaya umat Islam kacau.

Kalau demonstrasi menjadi onar, maka akan beritanya akan booming, menjadi dagangan laris mass media. Dan ke seluruh dunia akan dikobarkan bahwa umat Islam Indonesia tidak toleran. Dan inilah misi mereka yang ingin menghancurkan umat Islam. Maka pesan saya, Jika diperlukan untuk berunjuk rasa silakan asal seijin ulama’ setempat, dan lalukan dengan cara tertib, damai, santun dan tanpa caci maki, tanpa ungkapan kebencian, tanpa kekerasan dan anarkhisme.

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *