Bagaimana Hukum Menjual Kulit Hewan Kurban

Pertanyaan: Ustadz, bagaimana hukumnya menjual kulit hewan kurban? Baik kulit sapi atau kulit kambing? Mohon penjelasannya secara detil. Terimakasih – Agus, Surabaya

Pertanyaan ini dijawab langsung oleh Prof Dr H Ahmad Zahro, MA (Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dan Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) se-Indonesia)

Kurban (qurbaan: pendekatan diri pada Allah SWT) pada awalnya merupakan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah SWT (yang maknanya): “Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar” (surat as-Shaaffaat 107). Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk meneruskan syari’at tersebut setiap Idul Adha. Hal ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Dalam surat al-Kautsar ayat 2 dinyatakan (yang maknanya): “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. Dan sabda Rasulullah SAW yang maknanya: “Barangsiapa yang telah mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat salat kami” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Rasulullah SAW sendiri senantiasa berkurban dengan dua ekor domba pada setiap hari raya Idul Adha, satu untuk beliau sendiri, dan satu lagi diniatkan bagi umatnya (HR al-Jama’ah).

Mengenai peruntukan daging kurban, terdapat perbedaan di antara para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih).

Fuqahaa’ Hanafiyyah memandang sunnah daging kurban itu dibagi tiga: sepertiga dimakan pemiliknya, sepertiga dihadiahkan untuk teman-teman akrab meskipun mereka orang kaya, dan sepertiganya lagi disedekahkan kepada orang miskin. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: “…maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta” (al-Hajj 36). Juga perbuatan Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau membagi kurban atas tiga bagian: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk tetangga yang miskin, dan sepertiga untuk peminta-minta (HR. Abu Musa al-Isfahaniy).

Fuqahaa’ Malikiyyah berpendapat, bahwa daging kurban itu tidak perlu dibagi-bagi. Hadis-hadis yang menerangkan adanya pembagian itu semuanya bersifat mutlak, yang memerlukan perincian. Menurut mereka, Rasulullah SAW sendiri tidak melarang memakan dan menyimpan daging kurban tanpa memberikannya kepada orang  lain seperti dalam sabda beliau (yang maknanya): ”Saya melarang kamu menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, karena kepentingan sekelompok orang Badui. Kemudian Allah SWT memberikan kelapangan, maka simpanlah olehmu apa yang ada padamu” (HR.Muslim).

Pandangan fuqahaa’ Syafi’iyyah bertolak belakang dengan fuqahaa’ Malikiyyah. Menurut pendapat yang paling shohih dalam madzhab Syafi’i, hukumnya wajib untuk disedekahkan kepada orang miskin sebagian dari daging kurban sekalipun jumlahnya sedikit, sementara selebihnya diberikan kepada handai taulan, baik kaya maupun miskin, dan pemiliknya sendiri sunnah memakannya sekedar sesuap.Alasannya juga merujuk kepada makna firman Allah SWT: ”…maka makanlah sebagian dari padanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi faqir” (al-Hajj 28). Selain itu juga berdasarkan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW biasa memakan hati binatang  kurbannya (HR. al-Baihaqi).

Sementara itu fuqahaa’ Hanabilah sependapat dengan fuqahaa’ Hanafiyyah, tetapi mereka memandang wajib bagi pemilik kurban memakan sepertiga dari daging kurbannya, karena perintah yang terkandung dalam ayat di atas (al-Hajj 36) mengandung pengertian wajib. Mereka malah membolehkan pemilik kurban memakan daging kurbannya lebih banyak dari sepertiga.

Mengenai apakah panitia boleh menjual kulit binatang kurban? Jumhur fuqaha (mayoritas ulama ahli fiqih) berpendapat, bahwa tidak ada bagian mana pun dari binatang kurban yang boleh dijual, semuanya harus dikonsumsi dengan distribusi yang benar, yakni maksimal sepertiga untuk yang berkurban, minimal sepertiga untuk fakir miskin dan selebihnya untuk teman, tetangga walaupun kaya, bahkan walaupun non muslim (boleh diberi bagian kurban). Hal ini didasarkan pada kenyataan zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, bahwa semua bagian binatang kurban itu dibagi-bagikan, dan tidak pernah terjadi penjualan bagian manapun termasuk kulitnya.

Tetapi fuqahaa’ Hanafiyah (ulama ahli fiqih pengikut madzhab Hanafi) berpendapat, bahwa kulit dan bagian dalam (jeroan, Jawa) binatang kurban boleh ditukar dengan segala sesuatu yang lebih bermanfaat bagi penerima bagian kurban. Hal ini didasarkan pada prinsip istichsaan (pertimbangan kebaikan menurut akal sehat walaupun berbeda dengan dalil tekstual).

Memang pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah terjadi penjualan bagian binatang kurban, tetapi jika sekarang kenyataannya bagian tersebut kurang bermanfaat kalau tidak ditukarkan dengan barang yang lebih bermanfaat (beras, misalnya), maka tujuan pokok syariat justru akan terpenuhi jika ditukarkan.

Mengacu pada prinsip istichsaan ini pula, maka kulit binatang juga boleh dijual (bukan ditukar seperti dalam madzhab Hanafi) asal hasil penjualan itu dikembalikan kepada fakir miskin, atau untuk biaya operasional kurban. Kenyataan sekarang tidak dapat dipungkiri, bahwa untuk operasional penyembelihan, pengelolaan dan pendistribusian kurban membutuhkan dana yang tidak kecil. Bahkan juga boleh untuk pengelolaan (penyembelihan dan pencincangan) diserahkan kepada seseorang dengan imbalan kulitnya. Semuanya didasarkan pada prinsip istichsaan mengingat adanya kemaslahatan yang lebih nyata. Tetapi tidak boleh untuk biaya pembangunan masjid, madrasah atau jembatan misalnya, karena hal ini sudah menyimpang jauh dari kaitan dan peruntukan hewan kurban yang secara hampir keseluruhan adalah untuk keperluan konsumtif. Untuk pembangunan masjid, madrasah, jembatan dan lain-lain sudah ada alokasi dana tersendiri dari sebagian zakat maal (harta) dalam ashnaaf/pagu sabiililalah (jalan Allah, segala kebaikan).

Bagaimana kalau kulit binatang kurban itu untuk bedug?  Mengingat kulit seekor binatang kurban itu relatif sedikit, berkisar satu atau dua bagian saja, maka boleh untuk bedug, tetapi dengan cara diberikan pada seseorang lebih dulu kemudian orang tersebut menyedekahkannya ke masjid agar dipakai untuk bedug. Bagaimana kalau semua penerima daging kurban menyedekahkan semua bagian mereka kepada panitia pembangunan agar dipakai untuk biaya pembangunan masjid? Tidak boleh, karena ini sudah chiilah syar’iyyah (rekayasa hukum syara’) yang melampaui batas kehati-hatian dan kewajaran. Wallaahu a’lam

BeritaTerkait

ALUMNI NERAKA

ALUMNI NERAKA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *