Catatan 25 Tahun Masjid Al-Akbar: Bukan Hanya Tempat Ibadah

Share :

“Masjid Al-Akbar telah membuka penilaian saya tentang masjid,” kata Gabriel, mahasiswa Universitas Filipina yang menjadi peserta “Program Community & Technological Camp Nusantara” dari Kantor Hubungan Internasional ITS Surabaya, ketika bersama 18 mahasiswa asing dari Filipina, Kanada, dan Jepang berkunjung ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) pada 17 September 2025.

Ya, penilaian tentang masjid yang agak berbeda disampaikan Gabriel. “Selama ini, saya menilai masjid itu tempat ibadah, tapi Masjid Al-Akbar ternyata tidak hanya tempat ibadah. Masjid Al-Akbar itu memang tempat ibadah, tapi juga tempat wisata/rekreasi, pendidikan, olahraga, bisnis/wirausaha, dan tempat kegiatan sosial-kemasyarakatan yang lengkap,” kata Gabriel.

“Bukan Hanya Tempat Ibadah”, begitulah penilaian Gabriel terhadap Masjid Al-Akbar yang tahun ini memasuki usia seperempat abad (25 tahun), karena masjid yang digagas Mantan Wali Kota Surabaya H Soenarto Soemoprawiro pada 4 Agustus 1995 itu selesai dibangun setelah melewati krisis moneter dan akhirnya diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 10 November 2000 atau 25 tahun silam.

“Nama Al-Akbar sendiri berasal dari ucapan Gus Dur saat menandai status Agung/Besar (Masjid Agung) saat peresmian dan sejak awal memang MAS dibangun dengan konsep ‘Islamic Center’,” kata Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS DR KHM Sudjak MAg saat menerima kunjungan Gabriel dan belasan mahasiswa asing bersama Tim ITS (17/9/2025).

Oleh karena itu, katanya, MAS sejak awal memang didorong untuk berperan multidimensi (Rahmatan lil Alamin), mulai peran religius, edukasi, lingkungan/green, wisata hingga peran kultural, termasuk “ramah” untuk melayani GenZI (Generasi Z Islami) dan juga generasi pertama/pendahulu.

“Hal itu sejalan dengan peran masjid pada zaman Rasulullah, yang memosisikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan masyarakat yang multi dimensi untuk meningkatkan kualitas lahir dan batin. Itulah konsep ‘Islamic Center’ untuk peran ‘rahmatan lil alamien’,” katanya.

Peran “rahmatan lil alamin” (multi dimensi) yang memadukan keyakinan/religi, pengetahuan/edukasi, dan budaya/kultural /lingkungan (Where Faith, Knowledge, and Culture Meet) itu mendorong Masjid Al-Akbar untuk mengembangkan ikhtiar yang telah dirintis “generasi pertama” dengan komunitas JTBS (Jamaah Tartil Bakda Subuh/1999) dan komunitas Pengamal (Pengajian Muslimah Al-Akbar/2001), dengan “pohon inovasi” mulai 2010.

“Tahun 2010, MAS mulai mengembangkan Studio Dakwah Digital, Interior Tour (Ukiran/Kaligrafi/Tata Lampu), Perpustakaan dan Pojok Baca Digital (POCADI), virtual tour (tour secara digital/turis daring), lalu sejumlah lembaga pendidikan mulai Ma’had Aly (berdiri pada 2009, lalu menjadi STIU pada 2017 dan meningkat jadi STAI MAS pada 22/5/2019), KB/RA MAS (21/10/2013), MI MAS (14/11/2014), dan MTs MAS (1/3/2022),” kata Sekretaris BPP MAS H Helmy M Noor.

Setelah teknologi, pendidikan, pengajian, dan kajian bakda sholat, BPP MAS mulai tahun 2019 pun mengembangkan program inovatif, diantaranya Taman Edupark (2019), taman urban farming (2020), Taman Asmaul Husna (2020), dan Menara 99m (2020). “Taman Asmaul Husna dan Menara 99 meter itu menggambarkan 99 nama Allah,” katanya.

Inovasi lainnya, Green Toilet (2021) yang memiliki 539 Kran Wudhu “green” (air wudhu ditampung untuk sirami tanaman pada sejumlah taman yang ada), Air Mancur (2022) di pintu sisi timur untuk spot foto instagrammable, Green House atau Taman Melon (2022), Ballroom untuk kegiatan publik/eksternal (2022), Taman Peradaban/ikon provinsi (2023), dan BUMM (Badan Usaha Milik Masjid) yang mengelola Kampung UMKM Halal (2023).

“Inovasi berikutnya mulai fokus pada GenZI (Generasi Z Islami), diantaranya Majelis Subuh GenZi (MSG/2023), Taman GenZI (2023), Remas & GenZi (18/5/2024), Al Akbar Muallaf Center (2024) yang dimulai dengan ikrar dari Mualaf Korsel, Al-Akbar Tourism Center atau ATC (30/4/2025) dan Al-Akbar Sport Center atau ASC (28/6/2025),” katanya.

Bahkan, peluncuran Al-Akbar Mini Soccer (ASC) yang dilakukan oleh Gubernur Jatim Hj Khofifah Indar Parawansa itu pun dilanjutkan dengan peluncuran “Al-Akbar Ngaji Soccer” oleh pendakwah muda Habib Husein bin Ja’far Al-Hadar di ASC setelah Majelis Subuh GenZI MAS (20/7/2025).

“‘Ngaji Soccer’ di Lapangan ‘Mini Soccer’ Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya itu merupakan ‘Dakwah bil Hikmah’ yang kreatif, karena dakwah-nya lengkap yakni dakwah rohani dengan dakwah jasmani. Ini benar-benar kreatif dan lengkap, karena ada olah batin dan ada juga olah jasmani,” kata Habib Ja’far.

Inovasi terkait GenZI itu pun diapresiasi Gubernur Khofifah. “Ini strategis kalau Masjid Al-Akbar membina GenZI, karena GenZI memiliki peran strategis saat Indonesia menjadi negara besar pada 2030-2050. InSya-Allah, Indonesia menjadi negara maju ke-4 setelah China, AS, dan India, jadi GenZI akan sangat menentukan,” kata Gubernur Khofifah.

Apresiasi juga disampaikan Wagub Jatim Emil E Dardak saat membuka turnamen “Asparagus Cup 2025” di lapangan Al-Akbar Mini Soccer (27/10/2025). “Gaya main para kiai muda (gus) di lapangan Mini Soccer yang penuh kekeluargaan ini bisa menjadi inspirasi untuk membangun persatuan, apalagi Mini Soccer ini di area Masjid Al-Akbar, jadi bisa main bola tapi ya ingat sholat, takmirnya kreatif,” katanya. (*/edymy)

Share :

Berita Terkait