Menyelesaikan Perbedaan

Ada perbedaan pendapat yang bisa diselesaikan dengan mudah. Ada pula perbedaan pendapat yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah, bahkan mungkin masuk kategori yang tidak bisa diselesaikan. Ada juga perbedaan pendapat yang mestinya bisa diselesaikan dengan mudah, kalau menggunakan rujukan yang sama. Perbedaan-perbedaan di dalam ilmu pengetahuan, fakta empiris, umumnya bisa diselesaikan dengan mudah. Misalnya saya berbeda pendapat dengan saudara-saudara sekalian tentang berapa jumlah jamaah di masjid ini. Kalau ingin mengetahui siapa yang betul, gampang, tinggal menghitung saja. Dan pada umumnya orang dengan mudah bisa menerima mana yang benar mana yang salah. Persoalan seperti itu biasanya diselesaikan di dunia ilmu pengetahuan. Ada perbedaan dalam bidang-bidang tertentu, yang acauannya sulit, seperti bidang filosofi, bidang seni dlsb. Misalnya kalau saya tanya masjid ini indah atau tidak, ini akan sulit menyelesaikan.

Perbedaan-perbedaan yang terkait dengan bidang agama. Semestinya tidak sulit untuk diselesaikan, asal menggunakan rujukan yang sama. Kesulitan akan muncul karena tidak menggunakan rujukan yang sama. Bahkan ada yang akan menyelesaikan masalah agama, tetapi dengan mengatakan “menurut pendapat saya”, berarti sangat kontradiksi, karena kalau persoalan agama, kita tidak lagi berpendapat. Maka pada suatu ketika di dalam suatu forum ada orang yang mengatakan kepada saya, “saya tidak setuju dengan pendapat bapak”. Lalu saya katakan, siapa yang berpendapat? Saya tidak berpendapat dalam masalah agama, tetapi merujuk kepada Al-Qur’an, merujuk pada ajaran Rasulullah SAW. Kalau ingin pintar-pintaran berpendapat, maka di dunia sains, dunia filosofi, di dunia seni, di dunia logika dlsb. (Q.S. Al Ahzab [33] : 36. An Nisaa’ [4] : 65, An Nuur [24] 51)

Orang-orang seperti itulah sebenarnya ciri orang beriman. Sehingga, kalau persoalan ini masuk domain agama, maka kita merujuk kepada Al-Qur’an. Dan sebenarnya kalau umat Islam mau menggunakan rujukan ini (Al-Qur’an) maka tidak ada masalah. Sayang seribu sayang, kita kalau sudah berbicara tentang rujukan, mulai berpendapat.

Fenomena yang muncul belakangan ini, bagaimana memilih pemimpin kafir, menurut Al Quran? Kalau membaca Alquran, maka sangat jelas sangat jelas. Tidak butuh penafsiran macam-macam, tidak butuh ulama Al Azhar, tidak butuh lulusan Pondok 3000 tahun, tidak butuh surban besar. Yang dibutuhkan, mau apa tidak merujuk dan tunduk kepada Al Qur’an. Tidak hanya surah Al Maaidah 51, tetapi berpuluh ayat yang menjelaskan tentang itu. Seperti Ali Imran [3] : 28, 118, An Nisa’ [4] : 163, 139, dll. Semua mendukung “jangan memilih orang kafir sebagai pemimpin”. Kadang kita ditakut-takuti, Al-Qur’an tidak begitu saja, AlQur’an itu tidak mudah, kamu siapa? Mondok berapa tahun? Kamu bukan lulusan Al Azhar. Al-Qur’an itu sulit, tidak langsung ditafsirkan begitu saja. Memang banyak yang mengatakan sulit, tetapi Allah mengatakan “mudah”. Berulang kali dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang mudahnya. (Q.S. Al Qomar [54] : 18, 22, 32, 40,51)

AlQur’an itu mudah, kalau yang mengatakan Allah, tetapi sulit, kalau yang mengatakan manusia. Makanya Al-Qur’an diperuntukkan siapa saja, semua bisa mengerti. Karena tidak mungkin sesuatu yang sifatnya petunjuk, hanya bisa dimengerti hanya segelintir orang. Kontradiksi. Ibarat peta, kalau petanya sulit dibaca, bagaimana menenukan jalan. Padahal dijelaskan bahwa AlQur’an itu tibyaanan likulli syai’ (untuk menjelaskan semua). (Q.S.An Nahl [16]: 89). Saya jadi bertanya-tanya, apa yang ada di hati mereka? Kalau niat mereka ikhlas, memang mencari kebenaran, mudah-mudahan Allah SWT memaafkan. Tetapi kalau niat mereka itu untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu, atau untuk mempertahankan pendapat-pendapat tertentu, akan bahaya. Karena kadang ada ulama’-ulama’ tertentu, kalau sudah mengeluarkan pendapat dan ternyata pendapatnya salah, dia tidak berani mengatakan kalau pendapatnya salah. Mereka akan bersilat lidah, berputar-putar untuk membenarkan pendapatnya walaupun harus bertentangan dengan Al-Qur’an. Kata aulia ini inginnya dipelintir. Aulia itu kata mereka maksudnya bukan pemimpin, padahal terjemahan Departemen Agama adalah pemimpin. Bahkan ada yang mengatakan kalau walikota itu mereka terjemahkan teman kota. Padahal semua orang juga tahu kalau walikota itu maknanya pemimpin kota. Bolehlah, auliya’ diterjemahkan pengayoman, teman setia, teman akrab, karena memang mempunyai rti seperti itu. Sehingga, kalau teman setia saja tidak boleh, pengayom saja tidak boleh, apalagi pemimpin yang menentukan hidup kita sampai ke belakang. Karena yang menentukan aqidah anak-anak kita nanti.

Masalah politik ini bukan masalah sederhana. Karena orang Islam di Andalusia selama 600 tahun ada yang mengatakan 700 tahun punah, karena politik. Sedangkan di Indonesia Orang Islam baru 300-350 tahun. Ada yang mengatakan kepada saya, kalau di masjid jangan menyentuh masalah politik, padahal menurut saya, bicara di masjid harus bicara politik, bukan politik yang memihak partai, tetapi politik yang mengajak orang untuk bisa hidup lebih baik. (An Nisa’ [4] 59).

Ulil amri minkum (ulil amri yang berasal dari kamu) bukan dari orang kafir. Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dengan kata lain, kalau kamu berbeda pendapat dan kamu tidak merujuk kepada Allah dan Rasul kamu bukan orang yang beriman. Di ayat lain dijelaskan. (Q.S. An Nisa’ [4] 138,139)

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *