Pemprov Sulteng tertarik BUMM di Masjid Al Akbar

Surabaya (MAS) – Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air Pemprov Sulteng DR Andi Ruly Djanggola selaku kepala pembangunan Masjid Raya Pemprov Sulteng menyatakan tertarik dengan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS).

Dalam kunjungan studi banding bersama enam anggota pengurus yang diterima Ketua Badan Pengelola Pelaksana (BPP) MAS DR KHM Sudjak MAg dan tim BPP di Ruang VIP MAS, Senin, ia mengaku tertarik dengan manajemen MAS yang melibatkan 215 personel secara profesional.

“Semula, kami memiliki masjid agung tapi rusak terdampak gempa dan tsunami pada 2018, sehingga kami berusaha membangun lagi, apalagi pasca bencana ada banyak bantuan, maka tahun ini pun ada alokasi anggaran pemprov untuk membangun masjid raya, karena itu kami datang ke Surabaya untuk belajar manajemen masjid,” katanya.

Apalagi, pihaknya mendapat rekomendasi KPK untuk mempelajari manajemen masjid di Masjid Al Akbar Surabaya, karena itu pihaknya datang ke Surabaya untuk belajar lebih baik ke Masjid Al Akbar Surabaya, apalagi Masjid Raya Sulteng ditargetkan selesai pada Desember 2024.

“Sebagai tim yang ditunjuk membangun Masjid Raya _Fastabiqul Khoirut_ Pemprov

Sulteng, kami nggak salah belajar ke Masjid Al Akbar, karena manajemen sudah digital, seperti infak pakai QRIS, Juga ada BUMM yang mampu membangun foodcourt dan bekerja sama dengan UMKM. Ini bisa kami adopsi,” katanya.

Menanggapi harapan dari pengurus Masjid Raya Sulteng itu, Kepala BPP MAS DR KHM Sudjak MAg menjelaskan MAS yang mendapat SK Menag tahun 2003 sebagai masjid nasional itu memang memiliki sumber dana operasional secara mandiri.

“SK pengurus memang dengan SK dari Gubenur Jatim, tapi bantuan pemprov hanya untuk renovasi, sedangkan biaya operasional untuk membiayai 215 orang diperoleh secara mandiri melalui BUMM yang mengembangkan berbagai usaha, seperti sewa ballroom untuk pernikahan, sewa ruang utama untuk akad nikah, dan sewa galeri usaha yang bersinergi dengan BUMN dan swasta,” katanya.

Sementara itu, Kasie Usaha dan BUMM Agoes Suroso menambahkan usaha lain yang dikembangkan adalah pengelolaan parkir secara profit sharing, wisata menara 99m, foodcourt, dan galeri.

“Kalau masjid raya Pemprov Sulteng mau mengembangkan bisa dilakukan dengan usaha sesuai potensi di sana, misalnya lokasi yang dekat Wisma Haji, tentu potensial secara ekonomi,” katanya.

Dalam kesempatan dialog, Ketua BPP MAS Sudjak menyarankan pembukaan lembaga pendidikan juga harus memiliki nilai khas, seperti di MAS yang membuka MI dengan kelas reguler dan kelas internasional, kemudian ada pembelajaran out door di taman-taman di kawasan MAS, serta program ekstra berupa tahfidz, sehingga diminati masyarakat.

“Kami juga melayani Generasi Z Islami (GenZI) dengan ngaji bersama dai muda dalam Majelis Subuh GenZI, namun kelompok lansia juga ada senam lansia dan jamaah tartil bakda subuh (JTBS),” katanya. (*/mas)

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *