Surabaya (MAS) – Dai muda Gus Ali Zainal Muhammad yang sering disapa Gus Ebid menyarankan Generasi Z Islami (GenZI) untuk menemukan “ruang kosong” dalam kepakaran untuk sukses dunia-akhirat, karena ilmu yang mendorong kesuksesan itu keilmuan yang sempurna atau kepakaran.
“Imam Syafii dalam maqolah/ungkapan ‘man arada dunya fa’alaihi bil ilmi, man arada akhirat fa’alaihi bil ilmi, man aradahuma fa’alaihima bil ilmi’ itu menyebut ilmi, bukan ilmin,” ujarnya dalam pesan pada Majelis Subuh GenZI (MSG) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Minggu.
Di hadapan puluhan GenZI yang mengikuti majelis subuh episode ke-21 bertema “GenZI Bangkit Bangun Bangsa” itu, Gus Ebid yang juga pengasuh Pondok Pesantren Annuriyah Jember itu menjelaskan ilmi itu berarti ilmu yang bersifat sempurna atau kepakaran, karena seorang pakar itu lebih dikenal sesuai bidangnya.
“Ilmu yang bersifat kepakaran itu lebih dicari masyarakat, contohnya Gus Baha’ atau Gus Kautsar. Dulu, orang menjadi tokoh karena gelar doktor atau profesor, tapi sekarang doktor sudah banyak, jadi bukan istimewa, justru Gus Baha’ dianggap pakar di bidangnya, karena dia mengisi ruang kosong atau jarang orang,” katanya.
Gus Ebid yang juga aktif menulis buku itu menjelaskan maqolah dari Imam Syafii itu bermakna “Barang siapa menginginkan dunia (bahagia di dunia), maka harus dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat (bahagia di akhirat) maka harus dengan ilmu. Barang siapa menginginkan keduanya, juga harus dengan ilmu”.
“Ungkapan Imam Syafi’i yang dikutip Imam Nawawi dalam karyanya ‘Al Majmu’ itu bermakna kebahagian di dunia dan akhirat itu ditentukan kompetensi kita dalam bidang tertentu, karena kompetensi atau potensi khas itu nggak banyak orang atau ada ruang kosong, sehingga nilai kepakaran itu ya dalam potensi/kompetensi yang kosong,” katanya.
Selain kompetensi/kepakaran yang membuat diperhatikan masyarakat, Gus Ebid yang juga aktif mengisi pengajian atau majelis taklim itu juga menyarankan GenZI untuk fokus pada bidangnya, jangan komentar pada hal yang bukan urusannya, apalagi urusan teknologi digital sampai Subuh hingga menjadi “obyek” dari teknologi digital.
“Keterbatasan itu bukan kelemahan, tapi keterbatasan itu justru kekuatan, karena kita bisa menjadi profesional. Kalau perlu jangan buka konten medsos yang nggak manfaat dan sok komentar, karena tahu banyak hal itu justru membuat kita tidak bisa tenang, juga tidak fokus,” ujarnya.
Selain kompeten dan sikap profesional/fokus, Gus Ebid juga menyebut pentingnya memosisikan diri sebagai subyek dan menanggapi omongan orang sebagai batu besar. “Imam Syafii bilang omongan orang itu ibarat batu besar. Kalau dipikul ya kita yang rusak, tapi kalau dipilah-pilah akan indah. Allah dan Nabi saja jadi omongan,” katanya.
Mengakhiri ceramahnya, Gus Ebid meminta GenZI untuk menjadikan masa muda sebagai masa pengembangan. “Masa pengembangan itu butuh ilmu dan kreatifitas, tanpa ilmu itu kita seperti orang mati saja. Selain ilmu juga perlu cinta tanah air, jangan anggap perbedaan antarwarga negara sebagai permusuhan, tapi saling mengenal/menghormati,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gus Ebid juga mengapresiasi MSG di Masjid Al-Akbar sebagai satu-satunya masjid di Indonesia yang fokus Subuh (Ngaji Subuh) dan GenZI. “Zaman Nabi juga banyak dibantu anak-anak muda, seperti Khalid bin Walid, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas,” katanya. (*/mas)










