Milad ke-26, Masjid Al-Akbar Adakan Haul untuk Pendiri/Pengelola pada 21 Novembe

Share :

Milad ke-26, Masjid Al-Akbar Adakan Haul untuk Pendiri/Pengelola pada 21 November

Surabaya (MAS) – Untuk pertama kalinya, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) memperingati Milad ke-26 dengan mengadakan “Haul Akbar” untuk mendoakan para pendiri dan pengelola MAS pada 21 November 2026 pukul 07.00 WIB, diantaranya Try Sutrisno (mantan Wapres), Gus Dur (mantan Presiden), Cak Soenarto (mantan Walikota), dan sebagainya.

“Milad ke-26 MAS itu tepatnya pada 10 November, tapi kami merencanakan Haul Akbar di ruang utama MAS pada hari Sabtu 21 November dengan penceramah Ustadz Das’ad Latif dari Makassar,” kata Sekretaris Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS H Helmy M Noor di Surabaya, Sabtu.

Dalam haul akbar itu, pihaknya juga mendoakan pendiri lainnya, yakni H Basofi Soedirman (mantan Gubernur), H Mar’ie Muhammad (mantan Menkeu), H Tarmidzi Taher (mantan Menag), HM Hosein Soepranoto, dan sebagainya.

Selain pendiri, sejumlah pengelola MAS juga didoakan dalam haul itu, diantaranya KH Abdusshomad Buchori, Prof Dr HM Roem Rowi, KH Muammal Hamidy Lc, Prof KHM Ridlwan Nasir MA, KH Umar Fanani Lc, H Nur Shohib Hudan, Drs HM Roziqi MM, dan sebagainya.

“Haul juga dirangkai dengan aksi ‘Al-Akbar Berbagi’ yang merupakan aksi pembagian santunan untuk 100 anak yatim dan pembagian sembako untuk 200 dhuafa. Khusus untuk jamaah juga ada undian kupon umroh gratis dengan pendaftaran melalui tautan bit.ly/GratisUmrohPE atau scan QR code pada poster kegiatan,” katanya.

Helmy menjelaskan mantan Walikota Surabaya Cak Soenarto adalah penggagas/inisiator MAS, kemudian peletakan batu pertama MAS dilakukan oleh mantan Wapres Try Sutrisno pada 1995 dan diresmikan Presiden Gus Dur pada 10 November 2000. “Pembangunan tidak segera selesai, karena terjadi krisis moneter setelah peletakan batu pertama itu,” katanya.

Setelah itu, MAS ditetapkan sebagai Masjid Nasional oleh Menag pada tahun 2003 agar dapat menjadi lokasi alternatif untuk kegiatan keagamaan Presiden di luar Jakarta, namun pengelolaannya unik, karena pengurus (ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua bidang) MAS mendapat SK Gubernur (lima tahun), sedang 230-an karyawan dengan SK pengurus.

“Keunikan itu terkait dengan pengelolaan MAS yang sejak awal melakukan pembiayaan secara mandiri dengan usaha utama adalah penyewaan Ballroom Shofa dan Marwah untuk gedung pernikahan, lalu usaha parkir yang bermitra dengan pihak ketiga, kaleng Jumat, Menara 99m, dan Mini Soccer yang semuanya berbasis infak, meski infak untuk lapangan itu bukan tujuan, kecuali Mini Soccer untuk menarik anak-anak muda ke masjid,” katanya.

MAS juga menata lingkungan dengan taman-taman budaya, seperti taman lingkungan hijau untuk melon (Green House), dan Air Mancur yang diminati anak-anak muda untuk “selfi” saat Ramadhan (Qiyamul Lail). “Ke depan, sesuai perkembangan era digital, kami menjadikan remaja masjid dan GenZI sebagai garda depan MAS pada 2027. Mereka itulah corong IT dan medsos, sehingga MAS itu ramah untuk semua,” katanya.

Ia menambahkan keramahan untuk semua itu menjadikan MAS sebagai ikonik wisata atau lokasi jujugan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ada sekitar 378 orang setiap bulan selama Januari-Oktober 2026 dengan 20 persen adalah wisman China. Kalau wisatawan domestik (wisdom) berkisar 4.141 orang/bulan selama kurun waktu itu.

“MAS memang sudah menjadi ikonik pariwisata, selain Masjid Ampel, Kebun Binatang Suarabaya (KBS), dan kawasan Kota Lama/Tunjungan, karena MAS itu dekat tol dan bandara. Untuk melayani wisman, kami memiliki ‘Al-Akbar Tourism Center’/ATC (pusat turis) yang diresmikan Gubernur Jatim Ibu Khofifah Indar Parawansa pada 30 April 2025,” katanya, didampingi Kepala Urusan Wisata Religi MAS Anas Choiri. (*/mas)

Share :

Berita Terkait