Madrim Jadi Sesepuh bagi 20 Pengatur Shaf di Masjid Al-Akbar Surabaya

Share :

Surabaya (MAS) – Pengatur shaf di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Madrim, kini menjadi sesepuh bagi 20 pengatur shaf, karena pria asal Bojonegoro, Jawa Timur sudah menjadi relawan pengatur shaf sejak tahun 1998 ketika MAS masih belum diresmikan presiden.

“Ya, pengatur shaf di Masjid Al-Akbar ini ada 20 relawan dan pernah hamper 30 orang, tapi sebagian sudah meninggal dunia hingga tinggal 22 relawan tapi dua relawan juga sudah tidak aktif,” katanya saat ditemui mengatur shaf di Masjid Al-Akbar Surabaya, Rabu.

Pria yang sudah lama menjadi warga Pagesangan, Surabaya itu mengaku dirinya sangat menikmati menjadi relawan pengatur shaf di Masjid Al-Akbar Surabaya selama puluhan tahun, karena dirinya sebagai Muslim bisa melaksanakan shalat tanpa cela.

“Dulu, saya bekerja sebagai karyawan dari Perusahaan milik warga asing (China), tapi saya sebagai Muslim kadang-kadang terpaksa meninggalkan shalat, karena itu saya punya nadzar kalau punya pekerjaan sendiri akan menjadi relawan masjid,” katanya.

Akhirnya, dirinya yang selama ini menempati kawasan di dekat gereja yang tidak jauh dari Masjid Al-Akbar itu mencoba berwiraswasta dengan membuka bengkel las dan dirinya bersyukur usahanya berkembang hingga kini memiliki 28 karyawan.

“Sesuai janji (nadzar) saya, maka sejak memiliki bengkel las itu, saya berusaha ke Masjid Al-Akbar pada setiap shalat lima waktu dan akhirnya ditunjuk menjadi relawan pengatur shaf yang sekarang ada 20 relawan pengatur shaf di Masjid Al-Akbar,” katanya.

Ditanya tata kerja pembagian waktu pengaturan shaf, ia mengatakan tidak ada jadwal atau waktu yang khusus, karena sifatnya memang relawan, tapi 20-an relawan selalu lengkap pada setiap Shalat Jumat, Shalat Hari Raya, dan saat ibadah Ramadhan.

“Kalau pengalaman selama menjadi pengatur shaf, ada jamaah yang mudah diatur tapi ada juga yang sulit diatur, bahkan ada jamaah perempuan yang sampai menghardik, kok diatur-atur sih… Itulah suka-dukanya menjadi pengatur shaf,” katanya.

Namun, dirinya tetap bertekad menjadi relawan pengatur shaf, karena kesempurnaan shalat itu sangat ditentukan ketertiban jamaah yang juga menjadi penilaian pihak luar bahwa Muslim itu rapi dan istiqomah/konsisten.

“Bagi saya sendiri, apa yang saya lakukan juga menjadi keberkahan hidup, sehingga saya mempunyai rumah di Pagesangan ini dan juga bengkel las juga semakin berkembang, bahkan beberapa jamaah juga kalau memperbaiki pagar rumah ke bengkel las saya,” katanya. (*/mas)

Share :

Berita Terkait