Surabaya (MAS) – Influencer/Pemengaruh Dakwah Digital, Lora Kadam Sidik, menyampaikan tiga kiat untuk merdeka dari FOMO (fear of missing out) atau rasa takut tertinggal trend (ikut-ikutan) yakni kembali pada kepakaran, jaga siklus pertemanan, serta menggunakan akal dan doa untuk mengecek kebenaran informasi di zaman fitnah saat ini.
“Untuk merdeka dari FOMO atau trending di era digital itu perlu mengembalikan semua informasi kepada para pakar atau professional, misalnya tanya agama ke kiai, jangan tanya kesehatan ke kiai, apalagi tanya ke kolom komentar, kalau mau bisnis ya tanya pedagang, mau sehat ya tanya dokter, jangan ke guru spiritual,” katanya di Surabaya, Minggu (2/8) pagi.
Di hadapan ribuan jamaah Majelis Subuh Generasi Z Islami (GenZI) yang bertema “Merdeka dari FOMO” di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) itu, Lora Kadam Sidik menyebut informasi dari orang yang bukan pakar harus ditampung saja dan tidak perlu share, bahkan andaikata para pakar pun berdebat atau berbeda pendapat sesama pakar itu perlu ambil salah satu tanpa menyerang pakar lain, karena kita yang bukan pakar harus memilih diam.
Selain faktor kepakaran, katanya, siklus/lingkungan pertemanan juga berpengaruh besar saat ini, karena Gen-Z sekarang menikmati handphone/HP selama 10-15 jam/hari. “Untuk itu, faktor penting lain untuk merdeka dari FOMO adalah menjaga siklus pertemanan dengan lingkungan yang memiliki adab. “Kalau teman bicara di luar bidang kepakaran masih bisa diterima dalam hal-hal basic/dasar, misalnya jaga kesehatan dengan olahraga, tapi jangan sampai ngomong hal-hal teknis kesehatan. Jangan semua influencer atau seleb itu dipercaya,” katanya.
Dalam MSG episode ke-27 yang dihadiri Ketua BPP MAS DR KHM Sudjak MAg dan Pembina GenZI MAS HM Ghofirin itu, Lora Kadam Sidik menegaskan bahwa berbeda pendapat dengan teman atau guru sekalipun juga merupakan hal biasa, karena sosok yang tidak salah itu hanya Rasulullah yang merujuk pada wahyu, namun perbedaan pendapat itu jangan sampai menghilangkan adab. “Kita bisa berbeda dengan guru kita, tapi kita harus tetap hormat dan mencium tangannya. Itu adab,” katanya.
Hal yang juga penting untuk merdeka dari FOMO adalah menggunakan pemikiran atau berpikir, apakah rasional/logis/masuk akal atau tidak. “Misalnya, ada 10 trend ya jangan semua diikuti, tapi ikuti 1-2 trend saja yang logis buat kita. Kebenaran itu jangan dilihat dari jumlah, angka, algoritma, atau karena banyak yang mengikuti, karena jumlah banyak itu belum tentu benar. Definisi kebenaran atau kebaikan itu bukan banyak teman. Itu FOMO,” katanya.
Ia menambahkan algoritma itu bisa menjadi jebakan, sehingga hal yang benar menjadi salah atau hal yang salah bisa menjadi benar, karena banyak diikuti teman atau banyak warganet yang komentar. “Kalau FOMO itu diikuti, maka awalnya bisa halal yang diikuti, tapi lama-lama bisa haram juga diikuti, karena FOMO itu tadi. Rasulullah mengatakan fitnah itu bukan hanya menuduh, tapi juga bisa membunuh (psikis), bahkan bisa mengarah syirik, karena lingkungan menjadikan seseorang bisa menjadi Yahudi, Nasrani, dan sebagainya,” katanya.
Dalam MSG yang digelar rutin setiap bulan oleh Remas dan GenZI MAS itu, Lora Kadam Sidik mengakhiri tiga kiat (kembali pada kepakaran, jaga pertemanan, berpikir/rasional/logis) dengan ajaran penting Rasulullah untuk tidak lupa selalu berdoa agar terhindar dari kebenaran yang tampak salah dan kesalahan yang tampak benar. “Doa itu ajaran Rasulullah yang penting agar semua tindakan kita bernilai ibadah dan berpahala, bahkan bisa jadi pahala kita yang hidup di zaman fitnah itu lebih berlipat nilainya,” katanya. (*/mas)










