Mengukur Kadar Keimanan

Era pada saat ini merupakan era keterbukaan, era globalisasi. Kita hidup di tengah-tengah kecanggihan teknologi informasi yang mengakibatkan adanya keharusan perubahan sikap di dalam menghadapi segala informasi. Kalau dulu informasi negatif bisa kita hindarkan dengan jalan menjauhkan informasi itu dari lingkungan kita berada, tapi sekarang informasi itu sudah tak terbendung lagi. Mungkin untuk pertama kali kita mampu seleksi informasi yang disajikan oleh media sosial, tapi lama-kelamaan kita menjadi terbiasa untuk menerima informasi itu tanpa seleksi lagi. Belum lagi informasi yang disajikan melalui media elektronika lainnya. Oleh karena itu, sikap kita di dalam menghadapi semua itu, bukanlah menyingkirkan informasi itu, tetapi membentengi diri dari informasi itu dengan jalan menebalkan iman di dada masing-masing. Semakin tebal keimanan kita, maka semakin mampu kita menseleksi informasi yang masuk. Jadi, untuk masa sekarang ini hanya tinggal hati yang mampu bertindak untuk menangkal kemaksiyatan. Kata-kata yang kita lontarkan tidak akan mampu menyingkirkan kemaksiatan yang diakibatkan oleh informasi negative, apalagi tindakan dengan tangan, yang jauh sekali kemungkinannya untuk kita lakukan. Padahal tindakan hati dalam menangkal kemaksiatan itu merupakan sikap yang paling lemah dalam merealisasikan keimanan seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh baginda Rasul Muhammad SAW setelah beliau memberitahukan, bahwa setiap pengikut nabi sesudah jauh dari masanya, akan menentang terhadap ajaran itu sendiri. Mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan oleh Nabinya. Mereka akan menganjurkan satu perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda : Faman jaahadahum biyadihi wa huwa mu’minun, faman jaahadahum bilisaanihi fahuwa mu’minun, faman jaahadahum biqalbihi fahuwa mu’minun, walaisa waraa’a dzaalika minal iimani habbatul khardalin.(Siapa saja yang mampu berjihad (melawan mereka yang bermaksiyat kepada Allah dan RasuNya), dengan tindakan tangannya (kekuasaannya), maka dialah yang dinyatakan beriman, dan siapa saja yang mampu berjihad menghadapi mereka dengan menggunakan lisannya, (menggunakan kata-katanya), maka mereka masih dianggap beriman (pada dirinya masih terdapat keimanan), dan barang siapa berjihad menghadapi mereka yang bermaksiyat kepada Allah dan RasulNya dengan tindakan hati (merasa menyesal di hatinya), maka diapun tetap dianggap beriman, tetapi tindakan terakhir ini merupakan tindakan paling lemah, yang berarti tingkatan keimanannyapun paling lemah (HR Muslim).

Artinya kalau tindakan terakhir ini pun tidak juga dilakukan, maka di hati orang itu dianggap tidak ada setitik pun keimanan. Setelah kita perhatikan sabda SAW tadi, lalu kita dapat membayangkan betapa lemahnya iman kita selama ini. Kita hanya mampu bertindak dengan tindakan yang paling lemah untuk menghadapi kemaksiatan-kemaksiatan yang ada, paling-paling kita hanya mampu ucapkan : astagfirullahal adziim, sebagai realisasi sikap hati yang merupakan tindakan paling lemah. Sebab lisan kita yang mengucapkan istighfar itu, hanya berucap untuk diri kita sendiri, bukan untuk mencegah mereka, bukan untuk mencegah perbuatan maksiat yang ada. Pada saat sekarang ini dimana media elektronik dan media media lainnya secara terang-terangan mempertontonkan kemaksiatan dan menampilkan adegan-adegan di luar ajaran agama Islam, di luar ajaran syariat Islam, dan lebih tragis lagi adegan-adegan itu justru dipraktekkan oleh saudara-saudara kita seagama, maka seandainya sikap kita yang paling lemah tadi, yaitu sikap hati untuk tidak menerima dan membenci terhadap kemaksiatan tadi, kalau itu tidak dilaksanakan, maka jatuhlah pada sabda Nabi laisa waraa’a dzaalika minal iimani habbatul khardalin (tidak ada setitikpun keimanan). Bagi orang-orang yang dalam kategori tidak ada setitikpun keimanan maka mereka Inilah yang disebut oleh Allah SWT surah Al Baqarah [2] 10.dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

fiiquluubihim maradzun (dalam hati mereka ada penyakit). Dikatakan sakit, sebab orang yang dianggap sehat, adalah orang yang mengenal Allah SWT, orang yang takut kepada Allah, orang yang cinta kepada Allah. Oleh karena itu, agar mereka dapat sembuh dari penyakitnya, maka dia harus menjalani pengobatan dengan jalan mengenal kembali kepada Allah. Yang tentu saja untuk mengenal kembali kepada Allah, maka dia harus memohon ampun kepada Allah SWT. Sesuai petunjuk Rasulullah SAW :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتةٌ سوداء في قلبه. فإن تاب ونَزَع

واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلَّف بها قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله في كتابه: ) كلا، بل ران على قلوبهم (. رواه الترمذي، وصحَّحه، والنسائي وابن ماجه وابن حبان في صحيحه، والحاكم.

Sesungguhnya seorang mu’min tatkala melakukan satu bentuk dosa, maka diberikan satu titik hitam pada hatinya. apabila ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hatinya mengkilap kembali. sekiranya ia bertambah melakukan dosa, titik hitam itu juga bertambah, hingga akhirnya menutupi hatinya. inilah penutup yang dimaksudkan oleh Allah (sekali-kali tidak-demikian-, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hatinya. (HR Turmudzi).

Dari sabda Nabi ini, bisa kita ambil pengertian, bahwa orang yang berdosa itu berakibat hatinya menjadi kotor, akan tetapi kekotoran hati itu dapat lenyap tanpa bekas, tergantung pada upaya dirinya untuk bertaubat kepada Allah swt. Dan tentu saja upaya seseorang itu ada yang maksimal, ada pula yang setengah-setengah dan bertingkat antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga, dapat digambarkan hati manusia dilihat dari noda yang menempel di hati mereka sesuai sabda Nabi Muhammad SAW dibagi menjadi empat bagian, pertama, (alqalbul ajrat) hati yang sempurna. Dalam hari ini tampak halus seperti ada lampu yang bersinar. Hati seperti inilah yang digambarkan sebagai seorang mukmin sejati. Kedua, al qalbul aghlaf (hati yang tertutup). Hati yang tertutup dan terikat oleh tutupnya itu sendiri. Hati yang seperti inilah yang digambarkan sebagai hati orang kafir. Hati yang sulit sekali untuk dibuka untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Ketiga, al qalbul manqush (hati yang terbalik). Hati yang digambarkan sebagai hati orang munafiq. Di tau terhadap kebenaran, tetapi selalu mengingkari terhadap kebenaran itu sendiri. Keempat, alqalbul mushoffah (hati yang terlapisi oleh noda). Hati jenis terakhir ini digambarkan sebagai hati orang yang masih beriman tetapi sudah terlapisi oleh noda kemunafikan. Seperti orang yang setuju kepada kemaksiyatan dan kemungkaran. Iman yang ada pada hati orang seperti ini digambarkan seperti tanah yang ditumbuhi sayuran, di mana sayuran itu menjadi tumbuh memanjang karena disirami oleh air yang baik. Tetapi dalam hati ini terdapat noda kemunafikan yang digambarkan sebagai borok yang akan semakin melebar karena adanya nanah dan darah. Maka, apabila keimanan yang ada pada hati itu lebih kuat daripada kemunafikan, maka menanglah keimanannya, sebaliknya, jika noda kemunafikan yang kuat, maka noda keimanan akan menjadi kalah. Padahal untuk saat ini jenis hati yang keempat inilah yang paling banyak menimpa kita umat islam. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan bimbingan kepada kita semua, sehingga selamat di dunia maupun akhirat.

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *