Kreatif dan Dinamis

Jika setiap orang memfungsikan akal dan hatinya secara obyektif, niscaya kebenaran Islam tidak terbantahkan. Agama akan membawa perubahan ke taraf yang lebih baik bila difahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, kreatif diartikan sebagai kesadaran keimanan seseorang untuk menggunakan daya dan kemampuan yang dimiliki sebagai wujud syukur atas nikmat Allah, guna menghasilkan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi kehidupan. Beliau Imam Syafi’i menegaskan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan. “Jika Anda tidak menyibukkan oleh kebatilan”.

Sejalan dengan pesan suci Al-Qur’an, surah an Nahl [16] 97 yang maknanya : 97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Makna dinamis secara bahasa, ingin selalu bergerak, perubahan ke arah yang lebih baik. Lawannya adalah sikap statis. Sedangkan menurut istilah, dinamis adalah merupakan sifat dan sikap seseorang yang selalu bergerak, merubah dan berupaya untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu, baik yang berhubungan dengan pendidikan maupun pekerjaan.

Beliau Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad nin Muhammad Al Ghazali berkata : “Penyebab utama keterbelakangan bangsa Arab dan negeri-negeri Islam adalah kekalahan mereka dalam bidang peikologi dan sosial, kemudian melahirkan sikap jumud, mudah kalah dan lemah.

Kalau kita mau jujur dan obyektif bahwa apa yang dikatakan oleh beliau Imam Al Ghozali ini sangat tepat dan benar. Sebagian besar dari kita umat Islam terjebak pada sikap suka menganggur dan melakukan hal-hal yang tidak jelas manfaatnya. Berawal dari pengangguran melahirkan rangkaian keburukan dan menciptakan benih-benih kemunduran yang berujung pada kehancuran. Jika bekerjam kreatif, dan dinamis merupakan misi orang hidup, maka menganggur adalah sikap statis bahkan mati.

Beliau Rasulullah SAW telah memperingatkan kepada kita, “Ada dua nikmat kebanyakan menusia tertipu olehnya ; nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan”. ( HR Bukhori). Ada sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan, banyak orang sehat dan punya waktu luang yang cukup, tetapi hidup mereka terombang-ambing tanpa arah karena tidak memiliki tujuan dan cita-cita jelas. Mereka terpuruk karena tidak mau bekerja dan memanfaatkan kesehatan dan kesempatan yang dimiliki.

Allah SWT berfirman pada surah At Taubah : 105, yang maknanya : “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”. Ayat ini adalah sebagai daya stimulan bagi kita. Hendaknya kita punta etos kerja, semangat berkarya, bergerak maju bukan bergerak mundur.

Dalam kesempatan lain beliau Rasulullah SAW bersabda : “Setengah dari pada tanda kesempurnaan Islam seseorang adlaah meninggalkan perkara yang tidak berguna bagi dirinya.” ( HR Tirmidzi).

Hadis ini mengandung pelajaran :
1. Islam menghendaki terciptanya kedamaian dalam masyarakat ; di mana orang-orang yang ada di dalamnya hidup dengan tertib dan damai.
2. Menyibukkann diri dengan masalah yang tidak mendatangkan manfaat adalah tanda lemahnya iman
3. Menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan jalan keselamatan
4. Hati yang sibuk dengan mengingat Allah akan terhindar dari urusan makhluk yang tidak bermanfaat.

Hidup butuh keseimbangan. Salah satu hukum dasar dalam ilmu psikologi mengatakan : “Mustahil bagi otak yang masih normal dapat memikirkan lebih dari satu maslaah dalam satu waktu”.

Alloh berfirman dalam surah Al Ahzab : 4, yang maknanya : “ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”.

Dalam ayat lain yakni surah Al Qashoshosh ; 77 Allah berfirman, maknanya : “ dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Ayat ini mengandung empat nasihat untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat :
1. Barang siapa yang dianugerahi Allah kekayaan harta dan nikmat yang banyak hendaknya ia memanfaatkanya di jalan Allah
2. Setiap orang dipersilahkan untuk tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah
3. Setiap orang harus berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadaNya. Misalnya membantu orang-orang yang membutuhkan, menyambung tali silaturahim, membantu orang-orang terpinggirkan dan dililit kemiskinan dsb.
4. Setiap orang dilarang berbuat kerusakan di atas bumi, dan berbuat jahat kepada sesama makhluk karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

BeritaTerkait

ALUMNI NERAKA

ALUMNI NERAKA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *