Menjadi Umat yang Terbaik

Kita sekarang memasuki kehidupan yang semakin hari penuh dengan tantangan. Tantangan demi tantangan muncul di hadapan kita semua. Salah satu tantangan yang harus kita jawab saat ini adalah tudingan atau mungkin tuduhan, bahwa umat Islam adalah umat yang tidak menghargai hak-hak asasi manusia. Istilah hak asasi manusia biasanya juga dikaitkan dengan demokrasi. Dua istilah ini adalah jualan orang-orang barat. Mereka menjual istilah HAM, mereka juga menjual istilah demokrasi. Dan kita umat Islam diminta menjadi pembelinya. Dan sayangnya mental kita pada umumnya masih mental pembeli. Padahal seharusnya kita ubah, kita yang seharusnya jualan karena kita adalah umat terbaik. (Q.S. Ali Imran [3] 110).

Kitalah umat yang terbaik yang seharusnya menjadi penjual, bukan menjadi pembeli. Yakni jualan tentang kehidupan yang ma’ruf dan jualan tentang kehidupan yang jauh dari kemungkaran. Mengenai hak-hak asasi manusia, sekarang ini ada pihak-pihak yang berbicara di media, berbicara di berbagai forum, berpidato dan seolah-olah tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan hak-hak asasi manusia itu identik dengan Islam. Istilah-istilah yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia misalnya anti kebhinekaan, mereka mengatakan Islam tidak menghargai kebhinekaan, Islam tidak bisa menghargai perbedaan. Dan istilah yang lain yang juga bernada anti hak asasi manusia, Mengajarkan kekerasan, teror, tindakan-tindakan radikal atas nama agama, pemaksaan kehendak, selalu diarahkan pada umat Islam, dan seolah-olah itu adalah ajaran Islam. Memang ada yang mereka mengaku muslim memilih jalan kekerasan, radikalisme, terorisme. Dan secara pribadi saya tidak tahu jalan pikiran mereka, karena pelaku-pelakunya langsung ditembak mati, sehingga tidak bisa berdialog dengan mereka. Sebenarnya harus diketahui jalan pikiran mereka itu apa, kalau menegakkan HAM, tentu saja rujukannya harus apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Karena beliau adalah uswatun hasanah, beliau bukan sekedar pemimpin, tetapi pemimpin yang istimewa, pemimpin sekaligus teladan. Dalam menegakkan hak asasi manusia, Rasulullah SAW. menerapkan prinsip-prinsip tidak ada paksaan dalam beragama. (Q.S. AlBaqarah [2] 256, Yunus [10] 99)).

Nah, kalau Allah saja memberi kesempatan dan kebebasan, apakah anda akan melakukan pemaksaan, sehingga mereka kemudian menjadi orang yang beriman? Tidak, karena tidak ada pemaksaan dalam beragama. (Q.S Al Kahfi [18] : 29).

Silahkan pilih sendiri, mau beriman atau menjadi orang kufur. Lalu kenapa umat Islam dituduh sebagai orang-orang yang suka memaksakan? Padahal tidak ada ajaran begitu. Di dalam Piagam Madinah, masyarakat yang tegakkan oleh Rasulullah SAW, bahwa beliau memberi contoh kepada umatnya. Ada lima prinsip di dalam Piagam Madinah, pertama, umat Islam diminta bersilaturahim, berinteraksi sesama muslim dan orang-orang non muslim dengan baik. Kedua, semua masyarakat di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW pada saat itu diminta untuk saling tolong-menolong untuk menghadapi musuh bersama. Masyarakat pada saat itu juga diminta untuk membela mereka yang teraniaya. Keempat, masyarakat diminta oleh Rosulullah untuk saling menasehati. Kelima, Rasulullah SAW meminta saling menghormati meskipun berbeda agama. Inilah Umat Islam di Indonesia juga menunjukkan hal itu, bukti nyatanya adalah dengan besar hati umat Islam bersedia mencoret “tujuh kata” di dalam mukadimah undang-undang Dasar 1945.

Bahkan, istilah mukadimah itu sendiri kemudian juga rela untuk diganti dengan istilah pembukaan. Tujuh kata, yakni, “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”. Spiritnya adalah menghormati perbedaan, membangun persatuan dan kesatuan di tengah kebhinekaan. Jadi, saya kira orang sedang bermimpi kalau menurut umat Islam di negeri ini adalah umat yang tidak menghargai kebhinekaan. Umat Islam menghargai kebhinekaan, menghargai kebebasan. Lalu, kenapa kemudian umat Islam selalu menjadi pihak pembeli? bahkan lebih jelek lagi menjadi pihak yang tertuduh? Karena kekuasaan di negeri ini bukan di tangan orang-orang yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT, sehingga mereka tidak bisa menangkap pesan pesan Islam, ajaran-ajaran Al-Quran. Mereka justeru lebih mendengarkan pikiran-pikiran orang yang lebih menentukan kehidupan mereka. Kekuatan di negeri ini berada di tangan orang-orang yang belum mendapatkan hidayah dari Alqur’an. Jangan-jangan di negeri ini yang mengendalikan pemerintahan bukan yang di kantor dinas itu, tetapi yang mengendalikan orang-orang yang sangat kaya. Inilah yang disebut rezim plutokrasi, yakni rezim yang menjalankan pemerintahan berdasarkan peraturan hukum yang dikendalikan oleh orang-orang kaya.

Marilah kita merubah dari pembeli menjadi penjual, dengan menghayati pesan pesan Alquran itu dan kemudian kita sosialisasikan ke tengah-tengah kehidupan ini.

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *