Mualaf asal Korea Selatan Berikrar Masuk Islam di Masjid Al Akbar Surabaya

Surabaya (MAS) – Seorang mualaf asal Korea, Ahn Jong Hyun (37), mengikrarkan diri masuk Islam dengan bimbingan Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) Ustadz Muktafi Sahal.

Selain mualaf asing itu, tiga perempuan asal Surabaya juga mengikrarkan masuk Islam di MAS dengan bimbingan Ustadz KH Muhammad Husni Mubarok di MAS, Jumat (26/1/2024).

Ketiga perempuan yang semula pemeluk Kristen dan akhirnya menjadi muslimah adalah Nila Aprilia, Shofia Sandra, dan Tiur, sedangkan mualaf dari Korea yang semula pemeluk Buddha itu berikrar masuk Islam di MAS pada Jumat (19/1/2024).

“Dengan kesadaran sendiri, saya menyatakan memeluk agama Islam dengan Asyhaduan Laa Ilaaha illa Allah, wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah,” ujar laki-laki kelahiran Sejong, Korea pada 18 September 1987 itu.

Sementara itu, perempuan mualaf asal Dupak, Surabaya Utara, yakni Nila Aprilia, mengaku masa kecil ada dalam lingkungan keluarga Islam, tapi ibunya menikah dengan seorang Kristiani asal Manado dan akhirnya ke Manado.

“Jadi, saya pun ikut-ikutan agama ayah, ibu akhirnya kembali ke Surabaya dan saya pun kembali masuk keluarga dan lingkungan masyarakat yang kental dengan agama Islam di Surabaya, sehingga tertarik belajar mengaji lagi seperti masa kecil,” katanya.

Setelah itu, dirinya pun memutuskan untuk menikah dengan teman yang Muslim, sehingga dirinya dan suami bersilaturahmi ke pengurus Masjid Al Akbar untuk menyampaikan niat melakukan ikrar mualaf.

Hal yang sama juga diungkapkan Shofia Sandra dan Tiur yang juga berasal dari wilayah Surabaya Utara. “Saya sempat ikut-ikutan agama Bapak (Kristen) karena ikut orang tua ke Maluku Utara,” kata Shofia.

Namun, setelah bapaknya meninggal dunia, maka ia dan keluarganya kembali ke Surabaya. “Di Surabaya, saya kembali ke lingkungan yang Islam, sehingga saya belajar Islam lagi dan sekarang mantap masuk Islam,” katanya.

Sofia mengaku selama di Maluku Utara tidak pernah dibaptis ke dalam agama Kristen, karena hanya ikut-ikutan keluarga semata, sehingga dirinya tidak terlalu sulit kembali ke Islam.

Dalam ikrar itu, Imam Masjid Al Akbar Ustadz KH Muhammad Husni Mubarok di MAS yang juga pengasuh Pesantren Al-Fitrah, Kedinding, Surabaya pun memotivasi.

“Dengan mengikrarkan masuk Islam, Anda sebagai muallaf akan mendapatkan ampunan atas dosa yang telah lalu, dan perbuatan baik yang selama ini pahalanya ditangguhkan akan diterima,” katanya.

Ustadz KH Muhammad Husni Mubarok pun mendoakan para mualaf bisa beragama secara istiqomah dan tetap dalam iman Islam hingga wafat. “Sukses dalam Islam itu ukurannya bukan kaya, punya jabatan tinggi, dan berasal dari keturunan atau suku yang terhormat,” katanya.

Ulama muda itu menceritakan seorang wanita bernama Ummu Mihjan (Mihjanah) yang sering membersihkan masjid Nabawi. Wanita tua, miskin, dan berkulit hitam itu meninggal dunia pada malam hari sehingga dimakamkan tanpa pengetahuan Rasulullah.

“Ternyata, Rasulullah bertanya kepada para sahabat Di mana Ummu Mihjan? Sahabat menjawab ‘Dia telah meninggal’. Rasulullah sedih, bertanya ‘Mengapa kamu tidak memaklumkan padaku? Tunjukkan aku di mana kuburnya’,” katanya.

Setiba di makamnya, Rasulullah mendoakan beliau sebagaimana sebuah hadits (HR Muslim) yakni “Sesungguhnya kubur ini gelap buat ahlinya, dan sesungguhnya Allah akan melimpahkan cahaya buat mereka melalui doaku kepada mereka.”

“Kisah dalam hadits ini menggambarkan betapa Rasulullah sangat peka terhadap orang yang susah, namun mencintai agama dengan membersihkan Masjid Nabi, Masjid Nabawi, Madinah. Meski sosoknya tidak luar biasa, tapi nabi memberi nilai yang tinggi untuk amalnya yang kecil. Jadi, lakukanlah, walau kecil, karena kita tidak tahu amal mana yang membawa kita ke surga,” katanya. (*/mas)

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *