Masjid Al-Markaz Makassar Kunjungi Masjid Al Akbar

Masjid Al Akbar – Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf Makassar Sulawasi Selatan berkunjung ke Masjid Al Akbar Surabaya. Kedatangannya di Surabaya khusus bersilaturrahmi dan belajar bagaimana memakmurkan masjid. Kunjungan diterima langsung oleh Direktur Utama MAS dan beberapa direksi serta karyawan MAS di ruang Multazam MAS (13/11).

Bagi Prof Dr H Abdul Rahman Getteng Masjid Al Akbar tidak asing lagi. Ketua rombongan ini mengatakan tiga tahun lalu, MAS menjadi pusat pemberian kurma dari Telkomsel. “Tahun lalu saya juga bertemu dengan Dirut MAS, maka dari itu kami datang ingin menimba bagaimana memakmurkan masjid dan manajemen masjid dikelola seperti apa?,” kata Abdul Rahman mengawali sambutannya.

Di forum itu, Abdul Rahman banyak bercerita sejarah Masjid Al Markaz yang dibangun pada tahun 1994 yang digagas oleh Jenderal M Jusuf. Masjid resmi digunakan pada tahun 1996. “Saat ini masjid berkembang menjadi pusat pengembangan ibadah agama Islam. Bangunan Masjid terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari batu granit,” kata Abdul Rahman.

Setelah itu, MAS menayangkan video profil. H Endro Siswantoro mengatakan ujung tombak masjid berada di direktur Imarah-Ijtimaiyah, Direktur Tarbiyah dan Direktur Shiyanah. Direktur Imarah-Ijtimaiyah membidangi Ibadah dan Dakwah, Pemberdayaan Sosial dan Remaja Masjid, Pemberdayaan Keluarga dan Wanita. “Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, terutama wanita, di sini juga ada kajian keluarga sakinah,” kata Endro Siswantoro Dirut MAS.

Direktur Tarbiyah ini membidangi pendidikan. MAS juga mempunyai TK, PAUD, Sekolah Dasar/MI, perguruan tinggi Ma’had Aly yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Usuluddin (STIU), Masjid juga punya perpustakaan. Direktur Shiyanah ini yang mengatur semua kebutuhan masjid. Mulai dari perawatan bagunan masjid, kebersihan, pertanaman dan perawatan asset masjid.

Dirut mengatakan Nabi Muhammad SAW tidak menjadikan kedua masjid (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,-red) sebagai tempat ibadah saja. Melainkan sebagai tempat pengaturan ekonomi, pengaturan politik atau negara, sebagai tempat pedidikan. “Masjid harus dimakmurkan dan jamaah juga harus dimakmurkan oleh masjid,” jelasnya.

Setelah menjelaskan secara detail, banyak pertanyaan yang mengarah pada kemakmuran masjid di antaranya soal pembinaan remas, pengelolaan perpustakaan dan pengelolaan anggaran. Setelah beberapa pertanyaan dijawab, para rombongan dijamu makan siang di Kantin MAS. (ROF)

BeritaTerkait

ALUMNI NERAKA

ALUMNI NERAKA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *