Kisah Muallaf; Temukan Ketenangan Jiwa di Islam

Masjid Al Akbar – Jum’at hari yang mulia di antara hari lainnya. Di Masjid Al Akbar Surabaya setiap Jum’at selalu menjadi pilihan untuk mengucap dua kalimat syahadat. Ya, para muallaf memilih berikrar di hari Jum’at, setelah shalat Jum’at dan disaksikan para jamaah shalat Jum’at. “Saya mengenal sejak kecil, waktu itu keluarga tinggal di kampung yang kental dengan nuansa Islam,” kata Ludi Mulianto sebelum berikrar di Masjid Al Akbar (23/2).

Di depan para jamaah Shalat Jum’at, Ludi bercerita bahwa rumah di kampungnya berdekatan dengan masjid, sehingga nuansa Islam begitu akrab. “Namun jalan pendidikan, saya selalu mendapatkan bantuan dari yayasan lembaga pendidikan Kristen dan Katolik agar saya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” tutur pria kelahiran Surabaya ini.

Setelah dewasa dan bekerja di pabrik plastik pria kelahiran 1979 ini mengaku memeluk agama Budha dan menjadi umat Budha. “Saya merasa ada sesuatu yang hilang,” ungkapnya.

Kehilangan sesuatu itu membuat Ludi lupa diri dan merasa bisa dan mampu mengatasi semua masalah yang menimpanya itu dengan sendirian. “Dan masalah itu bisa terjawab ketika saya mendapat tugas keluar negeri. Di sanalah saya mendapatkan ketenangan. Di sanalah saya mendapatkan banyak informasi tentang Islam,” ungkap suami Widyarini ini.

Dengan suara tenang dan keras itu, Ludi mengaku bahwa masalah yang dihadapinya selama ini adalah kehilangan kebesaran Allah. “Dengan ini saya mantab bahwa Agama Islam dan kebesaran Allah adalah benar adanya,” tegasnya.

Dari cerita yang panjang itulah KH Ilhamullah Sumarkan Direktur Imarah-Ijtimaiyah MAS membimbing Ludi membaca dua kalimat syahadat. “Orang yang memeluk Islam seperti bayi yang baru dilahirkan, putih bersih tidak ada dosa sedikitpun. Namun setelah masuk Islam harus menjalankan syariat dan ajaran Allah. Ajaran pokok dalam Islam yaitu shalat,” pesan Kiai Sumarkhan.

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *