Bagaimana Hukum Berkurban dengan Uang, Inilah Jawaban Imam Besar MAS

Pertanyaan: Ustadz, bagaimana hukum kurban dengan menyerahkan uang? – Elok, Malang

Pertanyaan ini dijawab langsung oleh Prof Dr H Ahmad Zahro, MA (Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dan Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) se-Indonesia)

Dalam ilmu fiqih, kurban adalah penyembelihan hewan tertentu pada hari raya haji (Idul Adha, tgl 10 Dzulhijjah) dan/atau hari tasyriq (tgl 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) dengan niat mendekatkan diri (qurbaan, kurban) kepada Allah SWT. Dalam hadis shahih disebutkan: “Tidak ada amal keturunan Adam yang lebih disukai Allah SWT pada hari Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sungguh hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sungguh darah hewan kurban itu lebih dulu tercurah karena Allah SWT sebelum ia tercurah ke bumi, yang membuat jiwa menjadi senang” (HR at-Turmudzi, Ibnu Majah dan al-Hakim). Rasulullah SAW sendiri senantiasa berkurban dengan menyembelih dua ekor domba pada setiap hari raya Idul Adha, satu untuk beliau sendiri, dan satu lagi diniatkan bagi umatnya (HR Al-Jama’ah).

Jadi baik secara historis, teoritis maupun praktis, yang disebut kurban adalah menyembelih hewan kurban. Hewan yang diperbolehkan untuk dijadikan kurban pun tidak sembarang jenis dan keadaan hewan, melainkan hewan tertentu, yakni onta, sapi/kerbau, domba atau kambing.

Jabir bin Abdullah, salah seorang sahabat Rasulullah dari kaum Anshar mengatakan: “Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor onta untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang” (HR Muslim). Sedang domba atau kambing hanya berlaku untuk satu orang perekornya. Hal ini di samping merujuk pada hadis riwayat al-Jamaah di atas yang menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW berkurban untuk diri beliau dengan seekor domba, juga dikiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji.

Di samping itu, hewan yang dipergunakan kurban juga harus tidak cacat, tidak sakit, tidak kurus dan telah mencapai umur tertentu (domba 1 tahun lebih, kambing 2 tahun lebih, sapi/kerbau 2 tahun lebih dan onta 5 tahun lebih). Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban adalah: rusak matanya, sakit, pincang, dan kurus yang tidak berdaya” (HR Ahmad), dan hadis Rasulullah SAW: “Janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang telah berganti gigi, kecuali jika sukar didapatkan, maka boleh yang berumur satu tahun dari domba” (HR Muslim).

Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa kurban tidak sah atau tidak dinamakan kurban jika hanya berupa uang saja, berapapun besarannya. Bahwa menyerahkan uang untuk tujuan kebaikan jelaslah merupakan tindakan terpuji yang berpahala memang iya, bahkan bisa lebih besar manfaat dan pahalanya jika ada urgensi yang lebih besar pula (seperti terjadi bencana alam, misalnya), sedang umat Islam yang berkurban sudah banyak. Tetapi tetap saja namanya bukan kurban karena tidak memenuhi kriteria dan syarat kurban.

Lain halnya jika seseorang menitipkan uang pada panitia kurban, atau mentransfer uang dalam jumlah yang cukup pada seseorang/lembaga yang dipercaya agar dibelikan hewan kurban, maka hal ini jelas bernilai kurban dan sah dinamakan kurban, karena akadnya memang untuk membeli hewan kurban, hanya teknisnya saja yang berbeda dengan yang konvensional. Atau dengan kata lain, proses tersebut hanya terkait teknis pembelian hewan kurban tanpa mengurangi atau apalagi menghilangkan esensi dan definisi kurban itu sendiri.

Soal apakah orang yang berkurban itu harus tahu hewan kurban yang disembelih, atau bahkan apakah harus menyembelih sendiri hewan kurbannya. Bagi pria yang berkurban memang disunnahkan untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya. Hal ini didasarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata: ”Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Ketika hendak menyembelih, beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu” (HR Muslim).

Sedangkan bagi wanita dianjurkan untuk hadir dan menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya. Demikian ini karena Rasulullah SAW memerintahkan kepada puteri beliau, Fatimah RA: ”Hadirilah kurbanmu dan saksikanlah, sungguh dengan kurban itu engkau akan mendapat ampunan terhadap dosa yang engkau perbuat pada permulaah tetesan darahnya” (HR Al-Hakim, Al-Baihaqi dan At-Thabrani).

Tetapi andai orang yang berkurban itu tidak menyembelih sendiri, atau tidak menghadiri, ataupun tidak menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya, maka hal tersebut tidak masalah, kurbannya tetap sah, karena contoh dan perintah Rasulullah SAW terkait hal ini dipahami oleh seluruh fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) sebagai perintah sunnah, bukan perintah wajib, sehingga tidak berefek sah atau tidaknya kurban, melainkan berdimensi keutamaan kurban.

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *