Bagaimana Hukum Perusahaan Menyembelih Hewan Kurban

Pertanyaan: Ustadz, seringkali kami melihat saat Idul Adha, perusahaan menyembelih hewan kurban. Bagaimana hukumnya? – Luluk, Pasuruan

Pertanyaan ini dijawab langsung oleh Prof Dr H Ahmad Zahro, MA (Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dan Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) se-Indonesia)

Beberapa ketentuan kurban yang harus dipatuhi oleh mereka yang akan berkurban adalah: Binatang kurban tidak cacat dan telah mencapai umur tertentu (domba 1 tahun lebih, kambing 2 tahun lebih, sapi 2 tahun lebih dan onta 5 tahun lebih). Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban adalah: rusak matanya, sakit, pincang, dan kurus yang tidak berdaya” (HR Ahmad), dan hadis Rasulullah SAW: “Janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang telah berganti gigi, kecuali jika sukar didapatkan, maka boleh yang berumur satu tahun dari domba” (HR Muslim).

Seekor onta, sapi atau kerbau (dikiaskan dengan sapi karena banyaknya kemiripan antara kedua jenis binatang ini) berlaku atau dapat dipakai kurban untuk tujuh orang. Jabir bin Abdullah, salah seorang sahabat Rasulullah SAW dari kaum Anshar mengatakan:  “Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor onta untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang” (HR Muslim). Sedang domba atau kambing hanya berlaku untuk satu orang perekornya. Hal ini di samping merujuk pada hadis riwayat al-Jamaah yang menjelaskan , bahwa Rasulullah SAW berkurban untuk diri beliau dengan seekor domba, juga dikiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji.

Kurban harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan oleh syari’at. Menurut jumhur fuqahaa’ (mayoritas ulama ahli fiqih, dalam hal ini Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah), waktu diperbolehkannya menyembelih binatang kurban adalah tiga hari, yaitu tanggal 10, 11 dan 12 Dzulchijjah. Alasannya adalah pernyataan tiga orang sahabat Rasulullah SAW (Umar bin al-Khatthab, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas RA): “Hari-hari kurban itu tiga hari, yang utama adalah hari pertama”. Sedang para fuqahaa’ Syafi’iyah berpendapat, bahwa waktu diperbolehkannya menyembelih binatang kurban adalah empat hari, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulchijjah. Alasannya adalah hadis Rasulullah SAW: “Pada masing-masing hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban” (HR Ahmad dan ad-Daruquthniy). Hari tasyriq adalah tanggal 11, 12 dan 13 Dzulchijjah.

Mengenai hukum kurban, Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa kurban itu hukumnya wajib bagi yang mampu, sekali dalam setahun. Alasan beliau antara lain adalah sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): “Barangsiapa yang telah mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat salat kami” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Tetapi jumhur fuqahaa’ (mayoritas ulama ahli fiqih), yakni fuqahaa’ madzhab Malikiy, Syafi’iy dan Hanbaliy berpendapat, bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah (amat dianjurkan). Pendapat ini antara lain didasarkan pada sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): “Ada tiga hal yang wajib atasku dan sunnah bagi kamu: salat witir, menyembelih kurban dan salat dluha” (HR Ahmad, al-Hakim dan ad-Daruquthniy dari Ibnu Abbas).

Para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) sepakat, bahwa orang yang melaksanakan kurban itu harus: beragama Islam, sudah baligh (dewasa), berakal sehat, penduduk tetap suatu wilayah dan mempunyai kemampuan, yakni memiliki harta lebih dari kebutuhan primer yang cukup untuk membeli binatang kurban.

Bagaimana jika ada suatu perusahaan yang karena pemiliknya muslim taat dan usahanya cukup lancar dan beruntung besar, maka apakah perusahaan tersebut juga harus melaksanakan kurban?

 

Secara fiqih formal (yuridis) kurban adalah ibadah individual untuk kepentingan sosial. Jadi sekaya apapun seseorang, dia hanya berkeharusan kurban untuk dirinya dengan seekor kambing. Instansi atau perusahaan tidak dikenai taklif syar’iy (beban hukum syara’), sehingga tidak ada keharusan untuk berkurban, karena taklif syar’iy itu hanya dikenakan pada perorangan, yang lazim disebut mukallaf (yang dikenai beban hukum syara’). Tetapi secara fiqih moral (etis) siapapun muslim yang mempunyai kelonggaran rizki, mestinya terpanggil untuk berkurban sesuai kelonggarannya, lebih dari kelazimannya, tidak hanya seekor kambing tetapi sebaiknya lebih dari itu, sesuai kemampuan maksimalnya, dengan beberapa ekor kambing dan/atau sapi. Atas namanya tentu bukan instansi/perusahaan, tetapi perorangan. Boleh pemiliknya sendirian, boleh dengan keluarganya, atau lebih bagus lagi diatas namakan beberapa karyawan tertentu sebagai ”reward” (penghargaan) atas dedikasi dan prestasi mereka. Dengan demikian pemilik perusahaan tersebut akan mendapat pahala ganda, yaitu pahala sedekah kambing untuk karyawannya dan pahala kurban dari karyawan tersebut. Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya): ”Siapa pun yang merintis jalan kebaikan, maka dia akan mendapat pahala kebaikan itu dan pahala orang-orang yang melaksanakan kebaikan atas rintisannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…” (HR Muslim, at-Turmudziy, an-Nasa-iy dan Ibnu Majah).

Wallaahu a’lam

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *