Imam Besar Masjid Al Akbar Jelaskan Waktu Shalat Idul Adha

Masjid Al Akbar – Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Prof Dr H Ahmad Zahro MA mengingatkan masyarakat muslim di seluruh Indonesia bahwa Hari Raya Qurban jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah yang bertepatan pada Rabu 22 Agustus 2018 mendatang. Untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha, Prof Ahmad Zahro, mengingatkan untuk berpuasa di hari Arafah pada hari Selasa 9 Dzulchijjah 1439 (21 Agustus 2018).

Kedua, Masa takbiran khusus (hari raya) mulai maghrib Selasa 21 Agustus 2018 sampai Ba’da Ashar, Sabtu 25 Agustus 2018. Ketiga Masa penyembelihan qurban adalah dari sesudah Shalat Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah sampai dengan Asar Sabtu tgl 13 Dzulhijjah 1439 H (Tanggal 22 sampai dengan tanggal 25 Agustus 2018 M).

Ketika ada saudara kita sesama muslim dan berada di Indonesia yang berhari raya mengikuti Arab Saudi, maka harus dihormati dan tidak perlu dipermasalahkan,” kata Prof Ahmad Zahro yang juga Ketua Umum PP Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) ini.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan argumentasi mengapa Hari Raya Idul Adha berbeda dengan Arab Saudi, secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut, Dalam ilmu falak, penanggalan hijriyah (berbasis perputaran rembulan), memang negara-negara yang berada di sebelah barat berpotensi “lebih dulu” melihat hilal.

Kedua sejak mula, istilah hari Arafah itu adalah tanggal 9 Dzulhijah, baik ada yang wukuf ataupun tidak. Ketiga Perintah puasa Arafah adalah terkait dengan hari Arafah (9 Dzulhijjah) bukan puasa karena adanya wuquf di Arafah.

“Puasa Arafah sudah disyariatkan sejak tahun ke 2 Hijriyah, sedang ibadah haji (wuquf di Arafah) baru disyariatkan pada tahun ke 9 Hijriyah. Jadi selama 7 tahun, kaum muslimin puasa Arafah tanpa memperhatikan adanya wuquf di Arafah,” lanjutnya.

Fakta ilmiah falakiyah menunjukkan, bahwa negera-negara muslim terbagi dalam 2 wilayah mathla’ (tempat munculnya hilal) yang terkadang berbarengan terkadang berbeda. Demikian juga perbedaan waktu antara satu negeri muslim di wilayah barat dengan negeri muslim di wilayah timur ada yang terpaut sampai 12 jam.

“Karena itu, kalau shalat dan buka puasanya berdasar waktu di negera masing-masing, kenapa kalau berhari raya harus ikut Arab Saudi? Fakta historis, bahwa selama berabad-abad, kaum muslimin di dunia melaksanakan puasa Arafah (bahkan Ramadan) berpatokan pada penanggalan negara masing-masing,” terangnya.

Tidak ada dalil yang membedakan antara ketentuan rukyah Idul Fitri dengan Idul Adha, misalnya kalau Idul Fitri boleh berdasar rukyah negeri masing-masing, sedang kalau Idul Adha harus berdasar rukyat Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji. (*)

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *