Pengukuhan Pengurus, MAS Pecahkan Rekor MURI

Masjid Al Akbar – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengukuhkan Badan Pengelola Masjid Nasional Al Akbar Surabaya periode tahun 2019-2024. Pengukuhan Badan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya ini bedasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomer 188/219/KPTS/013/2019.

Khofifah membacakan surat keputusan disaksikan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Bedasarkan Surat Keputusan Badan Pengelola Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, dikukuhkan sebagai Ketua Badan Pengelola Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Dr H Mohammad Sudjak MAg, Sekretaris H Helmy Noor SIp, Bendahara H Soedarto. Bidang Imarah Dr H A Muhibbin Zuhri MAg, Bidang Tarbiyah Dr H Hasan Ubaidillah SH, MSi dan Bidang Riayah H Muhammad Koderi HW, MT.

Dalam sambutannya Khofifah mengatakan, bulan suci Ramadhan adalah ibadah manusia yang berhubungan dengan Alloh SWT, atau hablum minalloh. “Dia akan memperbanyak tadarusnya, sholat sholatnya, termasuk tarawih. Jadi ini lebih kepada hablumminalloh,” ungkap Khofifah (4/5).

Selain itu, Khofifah bersama Risma sepakat untuk memakmurkan masjid selama bulan Ramadhan. Walikota Tri Rismaharini mengatakan Masjid Al Akbar ini diharapkan bisa menjadi masjid untuk semua umat Islam. “Di Surabaya tidak ada lagi intoleransi. Masjid Al Akbar harus menjadi tempat pembelajaran bagi umat Islam dalam memahami agama secara benar,” terang Risma.

Setelah pengukuhan, penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) diberikan kepada Gubernur Jawa Timur, Walikota Surabaya dan Masjid Al Akbar Surabaya. Piagam penghargaan kegiatan langka itu diserahkan Senior Manager MURI, Aryani Sirega. “Ini kegiatan yang langka. Ada sekitar 21.300 lebih Kue Apem ditumpuk menyerupai kerucut pada Megengan Kubro ini,” kata Aryani usai penyerahan piagam MURI.

Istilah Kue Apem, menurutnya, sebenarnya berasal dari bahasa Arab yakni afuan/ afuwwun yang berarti ampunan. Jadi, dalam filosofi Jawa, kue ini merupakan simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan.

“Kue Apem bisa lebih identik dengan Habluminannas atau hubungan antar manusianya. Ini adalah kearifan lokal yang sudah secara turun temurun terjaga. Dimana sebelum ramadhan antar manusia bisa saling maaf memaafkan,” ujarnya.

Menurut Khofifah, tradisi Ngapem atau Affun ini lebih kepada hablum minannas, atau hubungan dengan manusianya. Dikatakannya, tradisi ini merupakan kearifan lokal yang dilakukan secara turun temurun. “Dan sudah kita jaga. Bagaimana kemudian sebelum masuk ramadhan, kita saling bermaaf maafan, hablum minannas-nya kita lakukan, pada bulan ramadhan hablum minalloh-nya kita lakukan,” pungkasnya. (*)

BeritaTerkait

ALUMNI NERAKA

ALUMNI NERAKA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *