Buya Yahya: Ustadz bukan diukur follower/masyhur tapi akhlak

Surabaya (MAS) – Pengasuh Ponpes Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat, Buya Yahya, menyatakan ustadz/guru itu bukan diukur dari follower/pengikut yang banyak dan kemasyhuran/keterkenalan, tapi ukurannya adalah akhlak.

“Rambu-rambu akhlak juga terutama dalam dua sikap yakni tidak benci/dengki dan tidak sombong, karena kalau tidak ada dua akhlak itu, maka siapapun akan sulit melakukan kebaikan dan menerima ilmu,” katanya di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Jumat (5/1/2024) malam.

Dalam “Tabligh Akbar Awal Tahun” yang diadakan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) bersama Al Fira Tour/Travel itu, Buya Yahya mencontohkan orang yang cerdas dan sering bertemu Nabi Muhammad tapi karena hatinya ada benci (tidak ada cinta kepada sesama) dan sombong adalah Abu Jahal.

“Abu Jahal itu sering bertemu dan mendengar ucapan Nabi, tapi karena benci dengan Islam dan sombong karena merasa lebih istimewa, maka dia pun ingkar kepada Nabi dan Islam,” katanya dalam tabligh yang dirangkai dengan Pameran Kiswah Bagian Pintu Ka’bah di selasar MAS itu.

Di hadapan ribuan jamaah, Buya Yahya juga memberi contoh lain yakni sosok yang luar biasa dalam ibadah, bahkan ibadahnya tidak kalah dari malaikat, yakni Iblis, namun menolak perintah Allah untuk melakukan sujud penghormatan, bukan sujud ibadah, kepada Nabi Adam.

“Penolakan itu dilakukan Iblis yang sangat alim itu, karena sombong dan merasa lebih berprestasi daripada Nabi Adam. Bagi Iblis, lho kok saya harus hormat kepada Adam, saya kan senior, sedang Adam kan baru saja diciptakan. Begitulah kalau sombong itu selalu banyak alasan,” katanya.

Padahal, Nabi Muhammad itu mengistimewakan siapapun, Nabi itu mau menjadi ustadz bagi orang miskin seperti Bilal, Nabi juga mau menjadi ustadz bagi orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf atau Usman bin Affan.

“Karena itu, ustadz kita di kampung yang mengajari kita bisa membaca Al Qur’an, cara sholat, dan baca sholawat, itu lebih patut dihormati. Kita perlu kembali ke kiai kampung, karena kalau memilih kiai yang terkenal, atau kelas nasional, akan membuat kita meremehkan kiai kampung (yang lebih berjasa), sehingga kita jadi sombong. Ini bukan main-main, karena sombong akan membuat kita nggak beruntung,” katanya.

“Kebencian atau hilangnya cinta, akan membuat ajaran agama kita menjadi hilang, alim pun bisa sombong karena merasa masuk surga, sehingga orang yang punya rasa benci dan sombong itu akan susah menerima kebenaran dan tidak cinta kepada sesama. Mari pangkas kebencian, kesombongan, agar kita nggak jauh dari Allah,” katanya.

Bila ustadz kampung itu sudah meninggal, Buya Yahya menyarankan cara menghormatinya adalah dengan menghidupkan madrasah diniyah di kampung/desa.

Sebelumnya, dalam Refeksi Akhir Tahun 2023 di MAS bersama Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa dan Forkopimda (30/12/2023), pengasuh Pesantren Progresif Bumi Sholawat, Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri, meminta masyarakat untuk saling tolong menolong demi kebaikan bersama sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dalam Surah Al Maidah ayat 2.

“Pesan saya singkat, amalkan Surah Al Maidah ayat 2 untuk tahun 2024. Dalam ayat itu, Allah menegaskan bahwa orang yang suka membantu sesama akan mempunyai usia harapan hidup yang panjang. Saya pernah kena COVID pada Agustus 2020 dan Bu Khofifah selalu membantu saya, karena itu saya akan selalu mendukung beliau,” katanya.

Ulama yang akrab disapa Gus Ali itu menambahkan bahwa orang yang makan bersama itu belum tentu sahabat, tapi sahabat adalah orang yang membantu di saat susah. “Makna panjang umur bukan usia, tapi nilai kemanfaatan, jadi orang yang baik dan suka menolong itu umurnya panjang dan barokah,” katanya. 

(*/mas)

BeritaTerkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *